ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali meningkat.
Padahal, sebelumnya tren hotspot di enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla nasional sempat mengalami penurunan. Kondisi terbaru membuat Kalbar dan Kalteng kembali menjadi fokus utama pemerintah.
“Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, tetapi hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” ujar Antoni seusai meninjau penanganan karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).
Antoni mengatakan dirinya bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan bertolak ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk memperkuat kembali koordinasi penanganan karhutla. Pertemuan tersebut akan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di daerah, termasuk gubernur, kapolda, dan pangdam.
“Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, kapolda, pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” jelas Antoni.
Menurut dia, koordinasi tersebut diperlukan untuk kembali menekan jumlah hotspot dan fire spot yang telah melalui proses verifikasi. “Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah,” tegasnya.
Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan dengan cut off 1 September 2026, kenaikan hotspot paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat. Jumlah hotspot di Kalbar meningkat dari 273 titik menjadi 859 titik. Sementara di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot naik dari 253 titik menjadi 623 titik.
Kenaikan juga terjadi di sejumlah provinsi prioritas lainnya. Di Sumatera Selatan, hotspot meningkat dari 20 menjadi 89 titik. Kemudian, Kalimantan Selatan naik dari 22 menjadi 73 titik. Sementara itu, Riau masih berada pada posisi nol titik, sedangkan Jambi meningkat dari nol menjadi 4 titik hotspot.















