Jakarta – Malaysia masih menjadi negara tujuan utama bagi pekerja migran Indonesia (PMI). Temuan ini kembali terlihat dalam publikasi Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (27/7/2026).
Data tersebut menunjukkan, dari seluruh penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang pernah bekerja di luar negeri dalam lima tahun terakhir, lebih dari separuh memilih Malaysia sebagai negara tujuan.
Temuan ini menarik, karena terjadi di tengah semakin beragamnya pilihan negara tujuan penempatan pekerja migran, dari Arab Saudi, Taiwan, Singapura hingga Jepang.
Malaysia tetap mempertahankan posisinya sebagai magnet utama tenaga kerja Indonesia. Data BPS memperlihatkan keputusan bekerja di luar negeri tidak hanya dipengaruhi oleh peluang memperoleh pendapatan lebih tinggi, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pasar kerja domestik, karakteristik daerah asal pekerja, tingkat pendidikan, hingga kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan.
BPS memperlihatkan jumlah penduduk Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri menunjukkan tren meningkat.
Pada 2021 jumlahnya tercatat sekitar 2,7 juta orang. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 4,1 juta orang pada 2025, meski sempat mengalami penurunan pada 2023. Namun, jika dilihat berdasarkan keberangkatan dalam lima tahun terakhir, jumlahnya justru berfluktuasi dan pada 2025 tercatat sebanyak 315.000 orang.
BPS dalam laporannya menjelaskan, bekerja di luar negeri masih menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan lapangan kerja dan meningkatnya biaya hidup di dalam negeri.
Faktor ekonomi tetap menjadi pendorong utama migrasi internasional. Selain adanya kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan (demand pull), migrasi juga dipengaruhi terbatasnya peluang kerja di negara asal (supply push) serta jaringan informasi yang mendorong seseorang memutuskan bekerja di luar negeri.















