ASPEK.ID, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago mengkritik wacana pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Menurutnya, pemerintah sebaiknya memprioritaskan pemerataan program tersebut di dalam negeri sebelum memperluas cakupan ke luar negeri.
“Menurut hemat saya, kita urus dulu yang di dalam negeri, masih banyak anak sekolah di dalam negeri yang belum mendapatkan jatah MBG,” kata Irma kepada wartawan, Selasa (2/6).
Irma menilai Badan Gizi Nasional (BGN) perlu memastikan terlebih dahulu efektivitas program MBG terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak Indonesia. Ia berharap tujuan utama program tersebut, termasuk menekan angka stunting, dapat dibuktikan melalui implementasi yang optimal di dalam negeri.
“Fokus dululah urus yang di dalam negeri agar fungsi MBG di dalam negeri dapat dibuktikan, betul-betul dapat meningkatkan imunitas anak dan IQ anak juga menurunkan tingkat kelahiran anak stunting dengan fokus pada nilai gizi yang didistribusikan setiap SPPG,” ujarnya.
Selain itu, Irma mengingatkan agar pemerintah mempertimbangkan kemampuan fiskal negara jika program tersebut hendak diperluas ke luar negeri. Ia juga mempertanyakan mekanisme pengawasan dan pelaksanaan MBG apabila diterapkan di negara lain.
“Jika bicara hak, anak-anak BMI (buruh migran Indonesia) di seluruh dunia juga berhak mendapatkan program yang sama. Namun lihat juga kemampuan fiskal negara untuk bisa melaksanakan itu, belum lagi nanti kontrolnya di tiap negara yang minta juga. Nggak usah jauh-jauh ke Saudi, anak-anak BMI di Malaysia jauh lebih banyak dan butuh perhatian,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengungkapkan kemungkinan penerapan Program MBG bagi siswa Sekolah Indonesia Jeddah. Wacana itu muncul setelah dirinya mengunjungi sekolah tersebut dan bertemu dengan para siswa serta tenaga pengajar.
Menurut Dadan, terdapat sekitar 1.081 anak pekerja migran Indonesia yang menempuh pendidikan di Sekolah Indonesia Jeddah. Ia menilai program MBG dapat memberikan manfaat bagi masa depan para siswa.
“Saya diminta datang ke sekolah Indonesia Jeddah di mana di situ ada kurang lebih 1.081 anak-anak pekerja migran yang didik di sekolah Indonesia Jeddah, dan saya kira ini program yang bagus karena bisa membuat anak-anak pekerja migran itu punya harapan masa depan,” kata Dadan.
Dalam kunjungannya, Dadan mengaku disambut ratusan siswa dan puluhan guru. Ia menyebut para siswa menyampaikan keinginan untuk turut merasakan manfaat Program MBG seperti yang diterima anak-anak di Indonesia.
“Mereka spontan ingin menikmati program yang dirasakan oleh teman temannya di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, Dadan menegaskan usulan tersebut masih akan dibahas dan terlebih dahulu dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Jika mendapat persetujuan, program itu berpotensi menjadi proyek percontohan bagi komunitas pekerja migran Indonesia di negara lain.
“Jadi kita tadi datang untuk melihat dan nanti saya akan laporkan ke Presiden apakah dimungkinkan kita membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di sekolah Indonesia Jeddah. Dan juga mungkin nanti ada juga pekerja-pekerja migran di Malaysia dan di kebun-kebun dan sebagainya, ini bisa menjadi suatu pilot project,” katanya. []
























