ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan bom dan peralatan militer kepada Arab Saudi dengan nilai mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 88 triliun. Paket persenjataan tersebut disebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Riyadh menghadapi ancaman di kawasan.
Persetujuan itu diumumkan Kementerian Luar Negeri AS setelah menerima permintaan pembelian dari Arab Saudi. Dalam paket tersebut, Saudi akan memperoleh ribuan kit panduan bom Joint Direct Attack Munition (JDAM) beserta bom serbaguna berbagai jenis.
Berdasarkan keterangan resmi Kemlu AS yang dikutip pada Sabtu (5/9/2026), Arab Saudi meminta 5.004 kit panduan JDAM KMU-572, 5.000 kit panduan JDAM KMU-556, 5.004 bom serbaguna BLU-111 berbobot 500 pon, serta 5.000 bom serbaguna BLU-117 berbobot 2.000 pon.
Pemerintah AS menyatakan penjualan tersebut akan meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi dalam menghadapi ancaman regional, baik saat ini maupun di masa mendatang.
Selain memperkuat sistem pertahanan domestik, paket ini juga diklaim akan meningkatkan interoperabilitas antara militer Arab Saudi dengan sistem persenjataan yang digunakan pasukan Amerika Serikat serta negara-negara mitra di kawasan Teluk.
Tak hanya bom dan kit panduan, paket penjualan juga mencakup perlengkapan pendukung seperti sistem sumbu FMU-139, detektor target DSU-38 dan DSU-40, kontainer penyimpanan, suku cadang, bahan habis pakai, aksesori, hingga layanan perbaikan dan pengembalian.
Amerika Serikat juga akan memberikan dukungan teknik, teknis, logistik, dan berbagai layanan pendukung lain sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Washington menilai penjualan ini sejalan dengan kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS karena memperkuat salah satu sekutu utama non-NATO di Timur Tengah.
Persetujuan penjualan senjata ini muncul di tengah meningkatnya ancaman terhadap Arab Saudi, termasuk serangan pesawat nirawak dan rudal yang dikaitkan dengan Iran maupun kelompok Houthi di Yaman.
Situasi keamanan itu juga mendorong Arab Saudi memperluas kerja sama pertahanan dengan negara lain. Pada awal Agustus lalu, Riyadh menandatangani pakta pertahanan bersama Pakistan dan Turki.
Kesepakatan tersebut disebut memiliki mekanisme serupa NATO, yakni serangan terhadap satu anggota akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh anggota, sehingga memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi Arab Saudi. []
















