ASPEK.ID, JAKARTA – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak panik menyikapi aktivitas gunung api tersebut.
Imbauan itu disampaikan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai suara dentuman dan gemuruh. Saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
BNPB bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Masyarakat di wilayah pesisir juga diminta memastikan kesiapan jalur evakuasi dan titik kumpul apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi.
BNPB turut mengingatkan warga agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk mengabadikan aktivitas erupsi.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung terkait potensi tsunami menjadi perhatian pemerintah.
“Kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian pemerintah,” kata Berton dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Berton, kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan pengalaman masyarakat saat tsunami pada 22 Desember 2018 yang berhubungan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan secara masif yang dapat memicu tsunami.
“Oleh sebab itu, masyarakat di Banten dan Lampung diharapkan tidak panik,” ujarnya.
Berton menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung secara menerus sejak Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi.
Pada malam hari, aktivitas erupsi terpantau menghasilkan lava fountain atau semburan lava berbentuk air mancur. Selain itu, tercatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo mencapai 70 milimeter.
Gempa letusan tersebut memiliki durasi hingga 21.600 detik.
Dampak erupsi juga terjadi pada perangkat pemantauan. Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi lontaran material vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau merusak kamera atau CCTV pengamatan hingga perangkat tersebut berhenti beroperasi.
BNPB meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak menyebarkan informasi yang dapat memicu kepanikan. []













