ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah mempercepat langkah transisi energi dengan mendorong konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sebagai respons atas meningkatnya tekanan global terhadap harga energi.
Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menjaga ketahanan energi nasional sekaligus melindungi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari gejolak harga minyak dunia.
Ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, dinilai berpotensi memicu fluktuasi harga energi global yang berdampak langsung terhadap fiskal negara dan stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Dalam rapat terbatas pada Kamis (20/3), Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya menjaga keamanan pasokan energi nasional di tengah dinamika global tersebut.
Arahan itu, menurut Rosan, menunjukkan pemerintah tidak hanya berfokus pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga tengah membangun fondasi ketahanan energi jangka panjang.
“Pemerintah terus menjaga APBN, sekaligus memastikan ketersediaan energi yang andal untuk mendukung kelancaran mudik Idulfitri dan kebutuhan ke depan,” ujar Rosan dalam pernyataannya, Jumat (20/3).
Sebagai tindak lanjut, Danantara mengambil peran dalam mempercepat transformasi energi melalui konversi PLTD ke PLTS. Langkah ini dinilai mampu menekan biaya operasional pembangkitan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang rentan terhadap lonjakan harga.
Selain aspek efisiensi, kebijakan ini juga diarahkan untuk mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi beban subsidi energi dalam jangka panjang.
“Percepatan konversi PLTD ke PLTS menjadi bagian dari efisiensi sekaligus transformasi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan,” pungkas Rosan. []
























