ASPEK.ID, JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai rencana pemerintah membentuk BUMN Tekstil berpotensi menjadi penopang penting bagi kebangkitan industri tekstil nasional sekaligus tulang punggung baru industri nasional. Namun, keberadaan BUMN tersebut harus difokuskan untuk menjawab persoalan struktural yang selama ini menekan pelaku industri dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan pembentukan BUMN Tekstil dapat memperkuat daya saing industri nasional, terutama jika ditopang penerapan teknologi modern dan efisiensi produksi secara menyeluruh.
Menurutnya, industri tekstil Indonesia menghadapi tantangan berat akibat derasnya arus produk impor, baik yang masuk secara legal maupun ilegal. Kondisi tersebut membuat produk lokal sulit bersaing di pasar domestik.
“Dengan skala usaha besar dan dukungan negara, BUMN tekstil dapat menjadi jangkar produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, sekaligus menekan biaya melalui efisiensi energi dan pemanfaatan teknologi,” ujar Saleh, Kamis (22/1).
Ia menambahkan, BUMN Tekstil juga berpotensi menjadi role model dalam penggunaan mesin modern, energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif.
Jika strategi ini berjalan konsisten, Saleh menilai citra industri tekstil dapat berubah. Industri ini tidak lagi dipersepsikan sebagai sunset industry, melainkan sektor yang bertransformasi menuju efisiensi, kualitas produk, dan kepastian pasar domestik.
“Industri tekstil ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan upah tenaga kerja murah. Kuncinya ada pada efisiensi, kualitas, dan jaminan pasar,” katanya.
Meski demikian, Saleh mengingatkan keberhasilan BUMN Tekstil tidak bisa diukur semata dari capaian laba dalam jangka pendek. Menurutnya, indikator yang lebih realistis adalah menurunnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya serapan produk dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja melalui modernisasi mesin dan peningkatan keterampilan.
Selain itu, pengendalian biaya energi menjadi faktor krusial. “Selama ini, banyak pabrik kalah bersaing bukan karena produknya buruk, tetapi karena biaya listrik dan gas yang terlalu mahal,” ujarnya.
Lebih jauh, Saleh menilai BUMN Tekstil juga harus berperan sebagai penopang industri kecil dan menengah (IKM). Salah satunya dengan memastikan ketersediaan bahan baku yang stabil dan berkualitas, sehingga pelaku IKM dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan.
“Keberhasilan BUMN Tekstil pada akhirnya bukan soal industri bertahan hidup, tetapi bagaimana industri ini bertransformasi menjadi lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor maupun tekanan global,” pungkasnya. []
























