Sistem kerja dari rumah (Work from Home/WFH) selama pandemi Covid-19 bisa disalahgunakan dan membuat karyawan menjadi kurang produktif khususnya dalam industri keuangan.
“Mereka menginginkan jam kerja fleksibel seperti pekerjaan paruh waktu, tetapi ingin digaji penuh,” kata CEO Perusahaan Investasi VSA Capital, Andrew Monk.
Melansir BBC, Senin (27/9/2021), Monk menegaskan bekerja dari kantor (Work from Office/WFO) menjadi penting untuk dilakukan oleh industri keuangan. Beberapa perusahaan akuntansi besar seperti PwC dan Deloitte menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel.
“Sebenarnya, meskipun mereka semua bekerja dari rumah dan mengatakan semuanya baik-baik saja, itu tidak baik-baik saja,” kata Monk.
Monk menambahkan, “London sangat beruntung, kami memiliki pusat keuangan yang menjadi kebanggaan dunia dan Anda harus bekerja selama berjam-jam lamanya. Jadi, Anda tidak bisa berharap mendapatkan bayaran gaji yang baik dengan tidak bekerja keras.”
Jumlah karyawan yang bekerja dari rumah meningkat secara drastis sejak lockdown di Inggris. Kemungkinannya bisnis harus bersiap untuk menerapkan sistem bekerja dari rumah di masa mendatang.
CEO Perusahaan Investasi Goldman Sachs David Solomon menganggap WFH sebagai sebuah penyimpangan. Menteri Keuangan Rishi Sunak juga memperingatkan bahwa bekerja dari rumah bisa merusak karier generasi muda.
Sebaliknya. Anggota Parlemen Kwasi Kwarteng melihat karyawan yang diberi kebebasan untuk memilih di mana dan kapan mereka bekerja lebih produktif dan bahagia.
Sistem bekerja dari rumah ini diterapkan oleh pemilik bisnis produsen kotak kardus Belmont Packaging, Kate Hulley. Ia mengubah sistem kerja pabrik menjadi empat hari dalam seminggu. Alhasil, produktivitas bisnis menjadi meningkat.
“Ini bekerja dengan sangat baik. Pelanggan belum melihat perbedaan dalam layanan,” papar Kate dikutip dari liputan6.
Berdasarkan studi HSBC pada 2017, Departemen Strategi Bisnis, Energi, dan Industri menyetujui sistem kerja yang fleksibel membuat karyawan menjadi lebih produktif dan bermotivasi tinggi. Sejumlah studi berhasil menunjukkan bahwa karyawan menjadi lebih produktif jika diizinkan untuk bekerja secara fleksibel. Mereka merasa lebih mudah fokus karena terhindar dari gangguan rekan kerja di kantor.
Studi terbaru dari Universitas Southampton terkait kondisi pekerjaan selama lockdown Covid-19 menemukan 90 persen responden berpikir produktivitas mereka tetap sama, bahkan meningkat sejak bekerja dari rumah.
























