ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah mulai mempercepat realisasi proyek peternakan ayam terintegrasi berskala besar yang didanai Rp20 triliun oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Proyek ini digadang-gadang menjadi fondasi penguatan pasokan protein hewani nasional sekaligus menopang program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan pembangunan telah memasuki tahap awal konstruksi pada tahun ini dan ditargetkan selesai dalam waktu relatif singkat.
“Itu peternakannya ada lima wilayah. Kita sudah groundbreaking. Kita bangun mulai ini tahun, mudah-mudahan maksimal dua tahun sudah selesai. Kalau bisa 1,5 tahun,” kata Amran saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (3/3).
Proyek ini tidak sekadar membangun kandang ayam berskala besar. Pemerintah merancangnya sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembibitan, produksi pakan, layanan kesehatan hewan, rumah potong unggas, hingga fasilitas pengolahan dan distribusi produk akhir.
Groundbreaking fase I telah dilakukan pada 6 Februari 2026 di enam lokasi berbeda. Langkah ini menjadi tahap awal agenda hilirisasi sektor perunggasan nasional yang selama ini dinilai belum terintegrasi secara optimal.
Dari sisi hulu, pemerintah memperkuat pembibitan berbasis Grand Parent Stock (GPS), Parent Stock (PS), hingga Final Stock (FS). Di sektor pakan, pengembangan berbasis bahan baku domestik disiapkan guna menekan ketergantungan impor.
Sementara di sisi hilir, proyek mencakup pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) modern yang dilengkapi fasilitas rantai dingin (cold chain), fasilitas pengolahan daging dan telur, hingga dukungan sistem logistik dan pemasaran agar rantai pasok lebih efisien.
Langkah ekspansi produksi ini tak lepas dari proyeksi lonjakan kebutuhan protein hewani untuk mendukung program MBG. Pemerintah memperkirakan tambahan kebutuhan mencapai 1,1 juta ton daging ayam dan 774.000 ton telur per tahun.
Dengan skala kebutuhan tersebut, peningkatan kapasitas produksi dinilai mendesak agar stabilitas pasokan dan harga tetap terjaga, sekaligus menghindari ketergantungan impor di tengah fluktuasi pasar global.
Jika target konstruksi 1,5–2 tahun tercapai, proyek ini diproyeksikan mulai berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional pada 2027 mendatang. []
























