ASPEK.ID, JAKARTA – CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan hingga kini perusahaannya masih mengkaji secara mendalam rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Kajian tersebut dilakukan seiring perhatian pemerintah terhadap industri tekstil nasional.
Rosan menegaskan, setiap rencana investasi yang dilakukan Danantara selalu melalui studi kelayakan serta asesmen menyeluruh dari berbagai aspek. Hal itu juga berlaku untuk sektor tekstil.
“Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor. Tentunya juga kita ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga, parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan,” kata Rosan, Minggu (18/1).
Menurut Rosan, Danantara terbuka terhadap investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dari parameter yang ditetapkan, sepanjang investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Ia menyebut sektor tekstil sebagai salah satu industri dengan daya serap tenaga kerja yang tinggi.
Karena itu, Danantara akan mencermati berbagai peluang yang ada di sektor tersebut, termasuk terhadap perusahaan tekstil yang masuk dalam kategori aset bermasalah atau distressed asset.
“Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset,” ujar Rosan. []
























