ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan proses penyehatan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mulai menunjukkan hasil konkret. Setelah dilakukan intervensi keuangan dan penataan ulang model bisnis, Krakatau Steel kini dinilai memasuki fase perusahaan yang lebih sehat dan siap melangkah ke tahap ekspansi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan kondisi keuangan Krakatau Steel telah mengalami perbaikan signifikan setelah dilakukan restrukturisasi menyeluruh, termasuk perapihan struktur bisnis.
“Jadi KRAS ini memang kita sedang melakukan penyehatan. Sekarang kondisi keuangannya sudah mulai sehat, sudah kita rapikan, business model-nya sudah kita rapikan,” kata Dony di Jakarta, Kamis (5/2).
Penyehatan Krakatau Steel disebut sejalan dengan strategi besar Danantara dalam mendorong pengembangan industri nasional, khususnya pada sektor hilirisasi baja. Salah satu fokus utama saat ini adalah penguatan industri baja dari sisi hulu (upstream) untuk mengurangi ketergantungan impor.
Dalam waktu dekat, Danantara menargetkan pembangunan pabrik baja baru yang akan dimulai melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada bulan depan. Proyek tersebut ditujukan untuk menambah kapasitas produksi baja nasional hingga 3 juta ton per tahun.
Pabrik baja ini berpotensi dikelola oleh Krakatau Steel dan direncanakan berlokasi di Cilegon, Banten. Namun, Danantara belum mengungkap nilai investasi maupun detail teknis proyek tersebut.
Setelah kondisi keuangan Krakatau Steel dinilai stabil, Danantara mulai kembali mendorong pengembangan industri baja hulu, dengan fokus awal pada pembangunan fasilitas produksi slab baja yang selama ini masih bergantung pada impor.
“Sekarang kan slab-nya masih impor. Nanti kita punya pabrik slabnya, kemudian kita buat juga downstream-nya,” ujar Dony.
Sementara itu, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, Akbar Djohan, menyatakan perseroan mendukung penuh agenda transformasi BUMN yang diarahkan untuk menciptakan dampak berkelanjutan terhadap kinerja perusahaan.
Ia menjelaskan bahwa Krakatau Steel terus melakukan transformasi operasional dengan mengembalikan volume produksi ke level optimal, meningkatkan efisiensi biaya tetap, menutup lini bisnis yang tidak menguntungkan, serta memfokuskan usaha pada segmen dengan margin lebih tinggi.
“Lalu juga dengan bantuan permodalan yang diberikan oleh Danantara, serta beberapa program efisiensi karyawan dan juga termasuk penyehatan dana pensiun,” kata Akbar.
Akbar menambahkan, sepanjang satu tahun terakhir kinerja Krakatau Steel menunjukkan tren perbaikan. Pendapatan perseroan tercatat meningkat 0,4% dibandingkan 2024 menjadi sekitar US$ 955 juta, sementara volume penjualan baja melonjak hingga 99% menjadi sekitar 945.000 ton.
Dari sisi permodalan, ekuitas Krakatau Steel juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 99,4% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai sekitar US$ 868 juta. Peningkatan ini didorong oleh program efisiensi masif, konsolidasi bisnis inti baja, serta mulai pulihnya akses perseroan ke pasar global.
“Dari sisi eksternal, kami mencoba mengembalikan lagi kepercayaan publik dengan terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder masuk kembali ke pasar,” tutup Akbar. []
























