ASPEK.ID, JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai dinamika yang terjadi di sektor pasar modal belakangan ini justru membuka ruang percepatan reformasi kelembagaan. Pergantian sejumlah pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga self-regulatory organization (SRO) dinilai dapat menjadi momentum penguatan regulasi, transparansi, dan tata kelola Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rosan menegaskan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki kepentingan strategis terhadap terciptanya pasar modal yang kredibel dan berkelanjutan. Pasalnya, kontribusi emiten BUMN mencapai hampir 30% dari total kapitalisasi pasar nasional.
“Kami di BUMN memiliki kepentingan yang besar. Oleh sebab itu, kami mendukung penuh berbagai inisiatif yang akan segera diluncurkan. Reformasi ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global,” ujar Rosan dalam dialog bersama pelaku pasar modal, Minggu (1/2).
Ia menyampaikan, lonjakan jumlah investor ritel serta pertumbuhan kapitalisasi pasar menunjukkan potensi pasar modal Indonesia masih sangat terbuka. Namun demikian, ekspansi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan tata kelola agar pertumbuhan berjalan sehat dan berkesinambungan.
Dalam pandangannya, kondisi pasar saat ini seharusnya tidak dimaknai sebagai tekanan, melainkan peluang untuk memperkokoh fondasi industri keuangan nasional.
“Saya optimistis langkah-langkah ini akan membangun keyakinan dan confidence yang lebih kuat terhadap pasar modal kita ke depan,” katanya.
Rosan juga menyoroti posisi strategis pasar modal dalam struktur perekonomian nasional. Ia menyebut kontribusi investasi—yang salah satunya disalurkan melalui pasar modal—mencapai sekitar 28%–29% terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara konsumsi domestik berada di kisaran 53%–54%.
“Pasar modal bukan hanya besar dari sisi ukuran, tetapi juga menjadi penopang kepercayaan jangka panjang bagi investor. Karena itu keberlanjutan dan kredibilitasnya harus terus dijaga,” ujarnya.
Terkait pembentukan harga saham, Rosan menegaskan bahwa valuasi harus sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar. Selama harga terbentuk secara wajar melalui keseimbangan permintaan dan penawaran, valuasi tinggi tidak menjadi persoalan.
Ia mencontohkan perusahaan global seperti Tesla yang memiliki rasio harga tinggi namun tetap diterima pasar karena mencerminkan ekspektasi serta proses pembentukan harga yang transparan.
Menurut Rosan, kemajuan pasar modal tidak semata diukur dari besaran kapitalisasi atau nilai transaksi, melainkan juga dari kualitas pasar itu sendiri—mulai dari integritas harga, likuiditas, hingga tata kelola yang kuat.
Ia menekankan pentingnya peran OJK, BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dalam memastikan industri pasar modal berjalan profesional dan bebas dari konflik kepentingan. Langkah reformasi yang tengah disiapkan, termasuk yang akan diumumkan OJK, diyakini dapat memperkuat persepsi investor global, termasuk lembaga penyedia indeks internasional seperti MSCI. []
























