ASPEK.ID, JAKARTA – Danantara Indonesia mempercepat agenda konsolidasi jaringan hotel milik badan usaha milik negara (BUMN) sebagai bagian dari pembaruan model bisnis pariwisata nasional. Proses penyatuan yang mencakup pengelolaan hingga kepemilikan aset ditargetkan rampung pada 2026.
Saat ini, BUMN tercatat memiliki lebih dari 100 unit hotel yang tersebar di berbagai wilayah. Kepemilikan tersebut merupakan akumulasi kebijakan masa lalu, ketika masing-masing BUMN mengembangkan properti perhotelan secara mandiri tanpa satu payung strategis.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menjelaskan bahwa penataan sektor ini sejatinya telah dimulai sejak tahun lalu melalui konsolidasi pengelolaan. Pada tahap awal, sejumlah hotel BUMN telah ditempatkan di bawah koordinasi Hotel Indonesia Natour (HIN) sebagai holding operator pariwisata yang berada di bawah PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney).
“Jumlah hotel BUMN itu mungkin lebih dari 100. Tahun lalu kami sudah melakukan proses konsolidasi operator, dan semuanya kita satukan di bawah Hotel Indonesia Natour,” ujar Dony, Kamis (29/1).
Memasuki 2026, Danantara melanjutkan konsolidasi ke tahap yang lebih fundamental, yakni penggabungan kepemilikan aset hotel BUMN. Integrasi ini dinilai krusial untuk menciptakan struktur kepemilikan yang efisien, meningkatkan skala ekonomi, serta memperkuat daya saing industri perhotelan nasional.
Danantara menargetkan seluruh proses penyatuan aset dapat diselesaikan dalam tahun ini. Setelah integrasi kepemilikan rampung, perusahaan akan membuka opsi kerja sama strategis dengan mitra global maupun domestik.
Salah satu skema yang tengah dikaji adalah pembentukan perusahaan patungan (joint venture) guna mempercepat pengembangan portofolio hotel, meningkatkan standar layanan, serta mengoptimalkan nilai aset BUMN di sektor pariwisata. []
























