• Latest
  • Trending
Diminta Revisi, Qanun Jinayah Aceh Kerap Rugikan Korban Pemerkosaan

Diminta Revisi, Qanun Jinayah Aceh Kerap Rugikan Korban Pemerkosaan

Harga Emas Terancam Turun Lagi Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Harga Emas Antam Melorot Tipis, Simak Daftar Lengkapnya Hari Ini

Dolar AS Makin Kuat Setelah The Fed Naikkan Suku Bunga

Dolar AS Makin Perkasa, Pagi Ini Nyaris Sentuh Rp 17.900

Diteriaki Menteri Pembohong, Mentan Curhat ke Jokowi

Amran: Pegawai Pertanian yang Ditembak di Papua, Anaknya Dapat Beasiswa dan Diterima Kerja di Bulog

SAR Masih Cari 140 Korban Kapal Virgo Transport 8 yang Hilang di Laut Jawa

Update KM Virgo: 34 Penyelam Diterjunkan Cari 120 Korban yang Masih Hilang

Menkeu Purbaya Siapkan Bersih-Bersih Bea Cukai, Pejabat Pelabuhan Diganti Total

Hoaks Purbaya Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China

Singapore Airlines Dilarang Masuk Hongkong

20 Maskapai Terbaik Dunia 2026

Biaya Perjalanan Haji 2020 Tidak Naik

BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70% di Sukuk Negara

Pabrik BYD di Subang Serap 20 Ribu Tenaga Kerja Lokal

Ketua Periklindo Curhat di DPR: Mobil & Motor Listrik Dilarang Naik Kapal Laut

Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al Madani Wafat

Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al Madani Wafat

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

IHSG Loyo di Akhir Perdagangan, 354 Saham Ditutup Melemah

OJK Minta Industri Jasa Keuangan Sesuaikan Operasional

OJK Resmi Terbitkan Aturan Demutualisasi BEI

Curi Barang Bukti Emas 1,9 Kg, Pegawai KPK Dipecat

Eks Bupati Pati Sudewo Dituntut Penjara 8,5 Tahun

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Selasa, September 22, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Diminta Revisi, Qanun Jinayah Aceh Kerap Rugikan Korban Pemerkosaan

by Zamzami Ali
Mei 27, 2021
in NEWS
Diminta Revisi, Qanun Jinayah Aceh Kerap Rugikan Korban Pemerkosaan

Pelaksanaan hukuman cambuk di i Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Banda Aceh, 13 Juli 2018. [Foto: Zamzami/Aspek.id]

ASPEK.ID, JAKARTA – Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan Hukum Pidana Syari’ah atau yang diatur di dalam Qanun Jinayat. Setiap penduduk di Aceh atau pendatang yang terbukti melanggar Syari’at Islam akan ditangkap oleh Wilayatul Hisbah atau Polisi Syari’at.

Jika pelanggaran yang dilakukan tergolong ringan, maka hukuman yang akan diberikan hanya sebatas teguran atau diberikan surat peringatan.

Tapi, jika perbuatan yang dilanggar termasuk kedalam kategori berat, maka hukuman cambuk akan diterapkan.

BacaJuga

Harga Emas Antam Melorot Tipis, Simak Daftar Lengkapnya Hari Ini

Dolar AS Makin Perkasa, Pagi Ini Nyaris Sentuh Rp 17.900

Amran: Pegawai Pertanian yang Ditembak di Papua, Anaknya Dapat Beasiswa dan Diterima Kerja di Bulog

Update KM Virgo: 34 Penyelam Diterjunkan Cari 120 Korban yang Masih Hilang

Hoaks Purbaya Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China

BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70% di Sukuk Negara

Namun, penerapan qanun jinayah atau hukum pidana yang merupakan bagian dari syariat Islam dalam kasus pemerkosaan terhadap anak di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, kembali menjadi sorotan.

Qanun jinayah diminta untuk direvisi karena kerap tidak berpihak kepada korban kekerasan seksual. Vonis bebas yang ditetapkan Mahkamah Syar’iyah Aceh terhadap DP (35) pelaku pemerkosaan terhadap anak di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, baru-baru ini dikecam luas.

Mantan Ketua Komnas Perempuan, Azriana Manalu, adalah salah seorang yang mengkritisi putusan yang didasarkan atas aturan jarimah dalam qanun atau hukum itu.

Pelaksanaan hukuman cambuk di i Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Banda Aceh, 13 Juli 2018. [Foto: Zamzami/Aspek.id]

“Selagi pemerkosaan dan pelecehan seksual masih ada di dalam qanun jinayah, putusan seperti ini berpotensi terulang kembali. (Putusan itu) memperlihatkan bagaimana hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh yang memeriksa berkas ini tidak terlalu memahami hukum acara pidana,” katanya sebagaimana dilansir dari laman VOA, Selasa (25/5).

Perbuatan jarimah (pemerkosaan dan pelecehan seksual) diatur dalam Qanun Aceh No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah. Bahkan di dalam Pasal 72 Qanun Aceh perbuatan jarimah sebagaimana diatur dalam qanun dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Namun yang berlaku adalah aturan jarimah dalam qanun.

Menurut Azriana, penggunaan qanun jinayah dalam kasus pemerkosaan kerap tidak berpihak kepada korban, seperti yang dialami K. Pemerintah Aceh pun diminta untuk merevisi qanun jinayah dengan mencabut pasal tentang jarimah.

“Sudah saatnya Gubernur dan DPR Aceh merevisi qanun jinayah dengan mencabut pasal tentang pemerkosaan dan pelecehan seksual. Karena hanya dua ini kekerasan seksual yang di dalam qanun jinayah. Dalam daftar jarimah yang dilarang di dalam qanun jinayah itu hanya dua ini yang kekerasan (seksual). Lainnya itu bukan kekerasan seksual,” ujarnya.

Perbuatan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang ada di dalam qanun jinayah sudah seharusnya dikembalikan kepada proses hukum peradilan pidana, dan diselesaikan oleh pengadilan yang memiliki kompetensi untuk mengadili perkara pidana.

“Supaya kita bisa hentikan proses peradilan yang itu merugikan korban dan mengimpunitas pelaku kekerasan seksual,” ucapnya.

Hal serupa juga dikatakan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh, Firdaus Nyak Idin. Vonis bebas Mahkamah Syar’iyah Aceh terhadap DP semakin membuktikan bahwa qanun jinayah sangat tidak berpihak pada anak korban kekerasan seksual.

“Kalau qanun-nya saja nir-perspektif perlindungan anak, bagaimana kita bisa berharap pada sumber daya manusianya yang kemungkinan besar juga nir-perspektif perlindungan anak!. Belum lagi, pengalaman hakim Mahkamah Syar’iyah yang terbiasa menangani perkara perdata besar kemungkinan rendah pengalaman dalam menangani perkara pidana, termasuk kekerasan seksual terhadap anak,” katanya, Selasa (25/5).

KPPA Aceh selalu menolak qanun jinayah dan Mahkamah Syar’iyah untuk menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pasalnya, sejak awal disusunnya qanun jinayah tidak pernah melibatkan para pihak yang memiliki perspektif perlindungan anak.

“Bagi kami qanun jinayah sudah ketinggalan zaman dan gagal memenuhi keadilan bagi anak korban kekerasan seksual,” ucap Firdaus.

Masih kata Firdaus, pihaknya mendesak pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam dan DPR Aceh, agar segera merevisi qanun jinayah terutama pasal terkait anak.

Lalu, mencabut semua pasal terkait anak pada qanun jinayah dan mengembalikan penanganannya pada Undang-Undang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Singkatnya, qanun jinayah dan Mahkamah Syar’iyah sebaiknya tak usah mengurus masalah pidana terkait anak yang tak mereka pahami sama sekali,” ujarnya.

“Sekarang upaya perlindungan anak yang sedang diperjuangkan pemerintah Aceh mengalami kemunduran drastis akibat implementasi aturan lokal yang salah kaprah. Melupakan sama sekali aturan hukum nasional dan internasional yang lebih progresif,” Firdaus menambahkan.

Pelaksanaan hukuman cambuk di i Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Banda Aceh, 13 Juli 2018. [Foto: Zamzami/Aspek.id]

Dinilai Kurang Bukti, Terdakwa Dibebaskan

Sebelumnya, pada 30 Maret 2021, DP yang merupakan paman dari K (10), telah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Syar’iyah Jantho dan dijatuhi hukuman penjara selama 200 bulan atau 16,6 tahun kurungan karena bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya.

Mahkamah Syar’iyah Aceh kemudian membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho No 22/JN/2020/MS.Jth tentang kasus pemerkosaan anak di bawah umur di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, dengan korban berinisial K dan terdakwa DP.

Kemudian, Kamis (20/5) Mahkamah Syar’iyah Aceh menerima permohonan banding dari DP dan membebaskan terdakwa dari segala tuduhan.

“Menyatakan terdakwa DP tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya. Sebagaimana dakwaan alternatif kedua, yang diatur dalam Pasal 49 Qanun Aceh No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah. Membebaskan terdakwa DP dari segala tuntutan hukum,” ujar ketua majelis hakim, Misharuddin.

Salah satu pertimbangan majelis hakim yang memberikan vonis bebas terhadap pelaku pemerkosaan itu yakni bahwa setelah menyaksikan video yang diajukan oleh pembanding/penasihat hukum terdakwa tersebut, terlihat anak korban menyampaikan keterangannya dengan ceria sambil tertawa dan tidak terlihat adanya beban psikologis yang dialaminya.

“Mahkamah Syar’iyah Aceh berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh anak korban melalui alat bukti a quo adalah keterangan yang dapat dipercaya. Oleh karena itu dapat dipertimbangkan sebagai alat bukti untuk mendukung pertimbangan-pertimbangan sebelumnya bahwa jaksa penuntut umum tidak mampu membuktikan dakwaannya,” imbuhnya.

Saat ini jaksa penuntut umum telah mengajukan kasasi atas putusan Mahkamah Syar’iyah Aceh. Sedangkan, kuasa hukum dari DP, Tarmizi Yakub, mengatakan juga akan mengajukan upaya hukum dalam bentuk kontra memori kasasi.

“Kita menghormati upaya hukum tersebut,” kata dia, Rabu (26/5).

Komentar
Share25Tweet16SendShareShare4Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

2 Maskapai Malaysia Stop Sementara Penerbangan ke Aceh

382 Jemaah Umrah ke Soekarno-Hatta, Turun di Aceh

    ASPEK.ID, JAKARTA -  Sebanyak 382 jemaah umrah yang terbang dengan Garuda Indonesia dari Jeddah ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta...

Peringatan 21 Tahun Damai Aceh Berakhir Ricuh, Kendaraan Dirusak

Usai Rusuh Aceh, Menkum Bakal Tuntaskan Pembahasan UU Otsus

  Jakarta - Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas mengatakan sudah menemui Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem terkait pembahasan...

Peringatan 21 Tahun Damai Aceh Berakhir Ricuh, Kendaraan Dirusak

Forkompimda Aceh Bahas Akar Kerusuhan pada Hari Damai Aceh

  ASPEK,ID, ANDA ACEH – Dinamika kerusuhan yang diwarnai penaikan Bendera Bulan Bintang pada Hari Damai Aceh menjadi fokus diskusi...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In