Oleh: Amir Faisal Nek Muhammad
(Founder Perfekto untuk Indonesia)
ERICK Thohir baru-baru ini mengunjungi rumah pengasingan Presiden RI pertama Soekarno di Bengkulu. Di rumah pengasingan itu Erick Thohir sempat mengambil wudhu’ dan melaksanakan shalat hajat di kamar Bung Karno.
Bung Karno merupakan sosok inspirasi bagi Erick Thohir, sehingga kerap kali pemikiran dan legacy Bung Karno dilanjutkan oleh Erick Thohir, hal ini dapat dilihat dari dua proyek besar yang dilakukannya, yakni revitalisasi Sarinah di Jakarta dan Sanur di Bali.
Sarinah merupakan salah satu proyek mercusuar Bung Karno, selain pembangunan Monas, GBK dan Hotel Indonesia yang ingin dijadikan sebagai pusat perbelanjaan pertama di tanah air yang diperuntukkan sebagai etalase barang produksi dalam negeri, khususnya yang berasal dari UMKM.
Penamaan Sarinah berasal dari nama pengasuh Soekarno saat menghabiskan masa kecil di Jawa Timur. Dalam buku berjudul Sarinah, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Soekarno menjelaskan Sarinah mengajarkan Bung Karno tentang mencintai orang kecil.
Sementara pengembangan kawasan wisata Sanur merupakan warisan Soekarno yang dibangun sebagai ikon pariwisata di Bali pada tahun 1963 demi memajukan Indonesia di panggung wisata internasional saat itu.
Langkah Erick Thohir melakukan revitalisasi dua aset ini merupakan langkah yang tepat dan cerdas, sesuai dengan ungkapan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menjaga dan memanfaatkan aset sejarahnya.
Erick Thohir berhasil menjadikan legacy pemimpin pendahulu tidak hanya sebatas masa lalu, namun bisa dimanfaatkan untuk masa kini.
Revitalisasi Sarinah dan Sanur juga masih sangat relevan untuk sekarang, dan bisa berefek multiplier, selain menjadi warisan sejarah, dua revitalisasi ini juga berdampak luas pada perekonomian masyarakat sekitar maupun UMKM.
Selain melanjutkan cita-cita Presiden Soekarno dalam membangun Sarinah dan Sanur, Erick Thohir juga sangat kuat memegang pemikiran Soekarno untuk menjaga persatuan Indonesia.
Semasa hidupnya, Bung Karno selalu menekankan pentingnya persatuan Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno,
“Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah. He, bangsa Indonesia, jangan gontok- gontokan!”
Dari pernyataan Bung Karno ini tersirat dua pesan penting, pertama adalah Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat dan besar, dan yang kedua untuk menjadi bangsa kuat dan besar rakyat Indonesia harus bersatu.
Konsep inilah yang terlihat sedang dipraktekkan oleh Erick Thohir untuk Indonesia. Seperti persoalan PSSI atau sepak bola Indonesia, Erick Thohir selalu menekankan tentang persatuan, bahwa sepak bola bukan menjadikan rakyat Indonesia saling terpecah belah, melainkan sepak bola harus menjadi alat pemersatu republik ini.
Kemudian saat menjadi Ketua tim kampanye nasional Jokowi-Ma’aruf, Erick berulang kali mengingatkan timnya untuk mengedepankan persatuan bangsa Indonesia, ia sangat menjaga agar pesta demokrasi tidak menjadi ajang permusuhan anak bangsa.
Dalam memimpin BUMN, Erick juga mengambil petuah Bung Karno ini dengan mengajak dan melibatkan semua pihak ikut andil dalam memajukan BUMN, dan memberikan manfaat BUMN untuk seluruh kalangan, hal ini tentunya bertujuan agar terciptanya kekompakan dan persatuan bangsa.
Erick Thohir dan Bung Karno memiliki kesamaan visi mewujudkan Indonesia yang kuat dan besar di dunia, sehingga gagasan dan langkah kedua pemimpin ini mengarah ke muara yang sama yakni Indonesia mendunia.
Jika Bung Karno memperjuangkan Indonesia merdeka, maka kini Erick Thohir melanjutkan Indonesia yang berdaulat dan maju.























