Survei LSI Denny JA merilis elektabilitas Ganjar-Mahfud merosot tajam pada November 2023. Pengamat politik Arifki Chaniago menilai hal tersebut adalah konsekuensi wajar dari pilihan narasi kampanye yang dipilih calon nomor urut 3 tersebut.
“Elektabilitas Ganjar Mahfud merosot tajam karena kekeliruan memilih narasi kampanye gaya perlawanan dan revolusi. Saya malah menduga sepertinya Pak Ganjar dan PDIP sudah mempersiapkan diri untuk menjadi oposisi pada pemerintahan berikutnya” jelas Arifki.
Sebuah kampanye bergaya revolusi, menurut Arifki, harus berangkat dari ketidakpuasan masyarakat kepada pemimpin hari ini agar bisa mendapatkan hasil.
“Sementara hari ini, momennya tidak pas. Disaat Pak Ganjar dan PDIP terus mengkritik, hasil Survei LSI Denny JA mengkonfirmasi kepuasan terhadap Presiden Jokowi justru naik ke angka 78%. Ini seperti menyalakan api di musim hujan.” terangnya.
Narasi perlawanan terhadap penguasa yang cenderung disukai masyarakat, menurut Arifki tidak bisa dimainkan dalam waktu yang pendek. Apalagi hanya di masa kampanye yang hanya tiga bulan.
“Kampanye perlawanan seperti ini sifatnya lebih kepada gerakan, bukan sesuatu yang instan. Harus sabar dan konsisten, serta berharap ada blunder-blunder yang bisa dimanfaatkan. Ini butuh waktu yang panjang.” Jelasnya dikutip dari media indonesia.
Menurut Arifki, narasi ini makin sulit diterima masyarakat karena sikap Ganjar dan PDI Perjuangan yang tidak mewakili narasi yang mereka coba bangun, karena PDI Perjuangan masih bagian dari pemerintahan.
“Publik tentu menyadari bahwa PDI-P juga masih menjadi menteri-menteri Pak Jokowi. Jika PDI-P terus mengkritik Jokowi tetapi tetap berada di pemerintahan, ini seperti menepuk air di dulang. PDI-P dinilai sebagai partai penguasa rasa oposisi, jadi narasi tersebut dianggap cuma dagangan politik.” tuturnya.























