ASPEK.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai berpeluang menjadi lebih berkualitas apabila seluruh program prioritas Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan optimal. Namun, derasnya hujatan di media sosial kerap menutup informasi mengenai capaian dan keberhasilan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Board of Advisors Prasasti sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, dalam dialog Prasasti Luncheon Talk 2026 bertajuk “Sektor dan Kebijakan Prioritas yang Menjadi Tantangan dan Peluang Pertumbuhan Indonesia di Tahun 2026”, Senin (19/1).
Hashim menegaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan harus ditopang kebijakan prioritas di sektor pangan, gizi, perumahan, kesehatan, serta reformasi fiskal dan penegakan hukum. Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersifat angka, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat.
“Dengan cara ini, ekonomi Indonesia diharapkan bukan hanya sekadar bertumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan, juga memberikan dampak yang sangat nyata bagi kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat,” ujar Hashim.
Ia mengakui, capaian pemerintah saat ini cukup banyak, namun sering kali tertutup oleh serangan di media sosial. Menurutnya, sebagian serangan tersebut bukan kritik murni, melainkan kampanye terorganisasi yang memanfaatkan bot, avatar, dan kecerdasan buatan untuk mendiskreditkan pemerintah.
“Ada laman dibaca 5.000 orang, tapi komentarnya 20.000. Ini tidak masuk akal,” katanya.
Hashim juga mencontohkan tudingan bahwa Presiden Prabowo Subianto menguasai lahan sawit hampir di seluruh Indonesia sebagai informasi bohong yang terus direproduksi di ruang digital.
Lebih lanjut, Hashim memaparkan sejumlah capaian pemerintah yang dinilainya berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat. Salah satunya adalah terealisasinya kampung haji Indonesia di Makkah, dekat Masjidil Haram. Proyek tersebut telah direncanakan sejak era 1950-an dan baru terwujud melalui lobi langsung Presiden Prabowo dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Di sektor sosial, Hashim menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini telah menjangkau 55 juta penerima, ditambah 4 juta ibu hamil. Program ini, kata dia, berangkat dari temuan tingginya angka stunting akibat malnutrisi, bukan kelaparan.
“Program MBG sudah dicetuskan Prabowo sejak tahun 2006 silam, jauh sebelum Gerindra lahir. Ide itu bertolak dari keprihatinan tentang fenomena stunting yang disebabkan malnutrisi balita dan ibu hamil,” ujar Hashim.
Ia menegaskan, MBG bersifat sukarela dan memiliki multiplier effect ekonomi yang besar hingga ke pedesaan, dengan target distribusi 82 juta butir telur serta ayam dan buah-buahan.
“Jadi tujuannya bukan hanya soal sosial dan peningkatan kualitas hidup generasi mendatang, juga dapat menggerakkan sektor riil sehingga memacu pertumbuhan,” katanya.
Selain MBG, pemerintah juga menjalankan program Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga paling miskin, serta pembangunan 3 juta rumah per tahun guna mengatasi sekitar 27 juta rumah tidak layak huni di pedesaan.
Menurut Hashim, sektor perumahan memiliki keterkaitan dengan 185 mata rantai industri, sehingga berpotensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita bisa belajar dari China yang berhasil tumbuh dengan sangat menakjubkan dalam beberapa dekade berkat pembangunan besar-besaran untuk menyediakan hunian layak untuk warganya,” ujarnya.
Di bidang pangan, Hashim menyebut swasembada pangan berhasil dicapai dalam satu tahun melalui intensifikasi, termasuk pemangkasan harga pupuk hingga 20 persen tanpa merugikan produsen. Ia menilai, hambatan utama selama puluhan tahun adalah birokrasi distribusi pupuk yang berbelit.
Tak kalah penting, Hashim menekankan urgensi reformasi fiskal dan penegakan hukum di sektor perpajakan. Ia mencontohkan kebocoran penerimaan pajak di sektor e-commerce, di mana pembayaran pajak dinilai sangat minim dibandingkan nilai transaksi yang dihasilkan.
“Tanpa menaikkan tarif pajak, dengan efisiensi aparat dan kebijakan yang tepat, saya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8 persen,” pungkasnya. []
























