ASPEK.ID – Holding BUMN tambang, PT Indonesia Asahan Alumunium atau Inalum (Persero), menerbitkan obligasi dalam bentuk dolar atau global bond senilai 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp37,5 triliun (kurs Rp15.000).
Penerbitan surat utang ini nantinya, sebagaimana disampaikan manajemen Inalum dalam keterangan resminya, Selasa (12/5), akan digunakan untuk refinancing bond yang jatuh tempo sebesar 1 miliar dolar AS dan sisanya untuk pembiayaan berbagai proyek strategis perusahaan.
Proyek yang akan digarap Inalum di antaranya pembangunan smelter grade aluminasi refinery di Mempawah berkapasitas 1 juta ton per tahun, PLTU Mulut Tambang Sumatera Selatan 8, proyek pabrik gasifikasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, dan sebagainya.
Obligasi global yang akan diterbitkan itu terdiri dari tiga tenor, yakni tenor 5 tahun dengan kupon yang ditawarkan sebesar 4,75 persen, tenor 10 tahun (5,45 persen), dan 30 tahun (5,8 persen).
Sebelumnya, penerbitan global bond juga sudah dilakukan PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai 600 juta dolar AS, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk senilai 500 juta dolar AS.
Profil Inalum
Holding BUMN pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) sebelumnya bernama Holding Industri Pertambangan (HIP) dibentuk pada November 2017 lalu.
MIND ID beranggotakan 4 perusahaan dengan PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan PT Freeport Indonesia sebagai anggotanya dan PT Inalum sebagai induk perusahaan.
Pada 17 Agustus 2019, HIP bertransformasi menjadi MIND ID (Mining Industry Indonesia) yang memiliki 65 persen saham PT Aneka Tambang Tbk., 65,02 persen saham PT Bukit Asam Tbk., 65 persen saham, PT Timah Tbk., dan 51,2 persen saham PT Freeport Indonesia.























