Jakarta – Indonesia membangun Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari di kawasan Karimun, Kepulauan Riau yang diklaim terbesar di Asia Tenggara.
FPSO Bahtera Haluan Lestari merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) North Hub Development Project Selat Makassar. North Hub merupakan proyek gas lepas pantai berskala besar yang menghubungkan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai.
Proses First Steel Cut atau pemotongan baja perdana untuk Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari di kawasan Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Hal tersebut diungkapkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto usai meninjau First Steel Cut atau pemotongan baja perdana untuk FPSO Bahtera Haluan Lestari.
“Proyek North Hub Development menjadi contoh keberhasilan pengembangan hulu migas Indonesia yang memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional dan perekonomian bangsa,” Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
“Jadi FPSO ini, seperti disampaikan oleh Pak Mirko, adalah yang terbesar di Indonesia dan juga di Asia Tenggara, serta masuk kategori terbesar di dunia,” lanjutnya.
Djoko menjelaskan, nilai investasi proyek tersebut mencapai 15 miliar dollar AS.
Nilai tersebut hampir 3 miliar dollar AS untuk pembangunan FPSO dan sekitar 12 miliar dollar AS untuk kebutuhan investasi lainnya. Proyek North Hub akan beroperasi di kedalaman laut sekitar 2.000 meter sehingga menjadi fasilitas produksi pertama di perairan ultra dalam di Indonesia.
“Kapasitas produksinya 1.000 MMSCFD untuk gas dan kondensatnya sekitar 80.000 BOPD, dengan kapasitas penyimpanan 1,4 juta barrel,” lanjutnya. Pengembangan proyek ini juga diproyeksikan membuka sekitar 8.000 lapangan kerja baru, khususnya bagi masyarakat lokal.
itu, proyek tersebut diperkirakan memberikan pendapatan kepada pemerintah hingga hampir 13 miliar dollar AS
























