ASPEK.ID, JAKARTA – Rencana pemerintah membentuk BUMN tekstil baru melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai perlu dibarengi dengan strategi yang benar-benar berbeda. Tanpa diferensiasi yang jelas, langkah ini dikhawatirkan sulit bersaing di tengah ketatnya industri tekstil regional.
Associate Director BUMN Research Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai pembentukan BUMN tekstil harus diarahkan pada segmen pasar yang tidak bertabrakan langsung dengan negara-negara sentra tekstil Asia.
“Kalau Danantara berencana akan bangun industri tekstil lagi, berarti musti ada strategi diferensiasi yang sangat berbeda supaya ada segmentasi pasar yang berbeda dengan negara kompetitor di Asia,” ungkap Toto, Selasa (20/1).
Menurut Toto, industri tekstil nasional menghadapi tantangan serius, terutama karena karakter sektor ini yang padat karya. Dalam beberapa tahun terakhir, daya saing Indonesia dinilai melemah dibanding negara lain di kawasan.
“Menurut saya daya saing tekstil Indonesia merosot karena masalah daya saing teknologi dan biaya SDM yang tidak kompetitif,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong banyak pelaku industri memindahkan basis produksinya ke negara-negara dengan struktur biaya lebih murah, seperti Bangladesh, India, dan Vietnam.
Untuk itu, Toto menyarankan agar Danantara tidak berjalan sendiri. Keterlibatan perusahaan swasta yang telah berpengalaman di pasar ekspor dinilai penting agar BUMN tekstil baru dapat langsung masuk ke dalam rantai pasok industri nasional maupun regional.
“Saya kira BUMN sudah lama tidak terlibat di industri ini. Jadi ada baiknya Danantara juga melibatkan exportir tekstil swasta yang berpengalaman buat ber-partner dengan BUMN di tahap awal ini,” beber dia.
Kolaborasi tersebut diyakini dapat mempercepat adaptasi bisnis BUMN tekstil, sekaligus meminimalkan risiko kegagalan akibat kurangnya pengalaman operasional di sektor yang sangat kompetitif ini. []
























