ASPEK.ID, NGADA – Peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang bocah berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan, pihaknya telah memerintahkan Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino untuk menemui keluarga korban. Menurutnya, kasus ini harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada ke kediaman orang tua korban,” katanya di sela-sela syukuran peresmian Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda NTT di Kupang, Rabu (4/2).
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, polisi menduga masalah ekonomi menjadi pemicu utama tindakan nekat korban. Namun demikian, aparat masih terus mendalami latar belakang kejadian tersebut.
“Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan tapi masih didalami lagi,” ujar Kapolda NTT.
Sebagai bentuk respons, Polda NTT mengirimkan tim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban, khususnya orang tua YBS. Pendampingan dilakukan menyusul informasi bahwa korban diduga bunuh diri karena tidak dibelikan buku dan pensil.
“Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu.
Tim tersebut dipimpin Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan bersama Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono serta Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo.
Pendampingan psikologis dijadwalkan berlangsung mulai Rabu (4/2) hingga Minggu (8/2) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
“Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban,” ujar Kapolda NTT.
Sebelumnya, YBS ditemukan meninggal dunia dengan posisi tergantung di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1). Peristiwa itu terjadi di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Kasus ini kembali membuka sorotan terhadap persoalan kesehatan mental anak serta dampak tekanan ekonomi keluarga di daerah. []
























