Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan penguatan karakter dan relevansi menjadi salah satu agenda utama transformasi pendidikan vokasi untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan di Indonesia.
“Ada tiga hal yang selalu menuntut adanya solusi dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi, yaitu mutu, akses, dan relevansi. Saya ingin mengajak kita semua melakukan introspeksi terhadap tata kelola penyelenggaraan pendidikan vokasi, khususnya terkait relevansi,” kata Wamen Fauzan dalam keterangan di Jakarta, Selasa (4/8/3026).
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan lulusan tidak hanya menguasai keterampilan praktis, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,68 persen atau sebanyak 7,24 juta orang, serta 1.050.764 angkatan kerja berpendidikan tinggi yang masih menganggur pada 2025.
Sementara itu, berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) pada Statistik Pendidikan Tinggi 2025, Indonesia memiliki 755 perguruan tinggi vokasi yang terdiri atas 283 politeknik, 443 akademi, dan 29 akademi komunitas.
Wamendiktisaintek menyoroti kondisi ini, menekankan bahwa perguruan tinggi termasuk vokasi harus mampu memberikan kepastian bahwa mahasiswa memperoleh kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus memiliki peluang yang lebih baik setelah lulus.
“Kalau kita melihat data BPS tentang pengangguran, angka pengangguran yang berlatar belakang pendidikan vokasi masih menjadi tantangan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya dalam rangka memperkuat relevansi di dunia industri yang dinamis,” ujarnya.
Menurut Fauzan, transformasi pendidikan tinggi vokasi sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Astacita yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, termasuk melalui penguatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Dalam konteks tersebut, pendidikan vokasi berperan strategis untuk menerjemahkan penguasaan sains dan teknologi menjadi kompetensi terapan.
“Pendidikan vokasi berperan penting untuk memberikan kepastian kepada mahasiswa bahwa setelah lulus mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan peluang untuk memperoleh pekerjaan,” tutup Wamendiktisaintek Fauzan.
















