Amerika Serikat – Pendiri Google, Sergey Brin, telah menggelontorkan lebih dari 100 juta dollar AS (sekitar Rp 1,8 triliun) untuk melawan usulan pajak kekayaan (wealth tax) di California. Brin dilaporkan menyumbang tambahan 20 juta dollar AS (sekitar Rp 360 miliar) kepada organisasi Building a Better California, sehingga total kontribusinya ke kelompok tersebut mencapai 102 juta dollar AS.
Building a Better California merupakan ormas alias organisasi kemasyarakatan yang berfokus menggagalkan usulan pajak miliarder (billionaire tax) di California. Usulan pajak yang dikenal dengan sebutan Prop 40 ini akan mengenakan pajak satu kali sebesar 5 persen dari kekayaan bersih sekitar 200 warga California berstatus miliarder, dengan perhitungan kekayaan dihitung sejak awal Januari 2026. Pendapatan dari pajak ini rencananya sebagian besar dialokasikan untuk mendanai program layanan kesehatan negara bagian tersebut, dengan estimasi total penerimaan mencapai 100 miliar dollar AS selama lima tahun ke depan.
Warga California dijadwalkan memberikan suara soal Prop 40 ini lewat pemilihan pada November 2026 mendatang. Brin diperkirakan berpotensi membayar pajak senilai 13,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 239 triliun) jika Prop 40 berlaku. Kekayaan Brin saat ini mencapai 267 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.806 triliun), menjadikannya orang terkaya keempat dunia. Artinya, dana yang sudah ia keluarkan untuk melawan pajak ini masih jauh lebih kecil dibanding potensi tagihan pajak yang harus ia bayar bila Prop 40 benar-benar disahkan penduduk California.
Bos Teknologi Organisasi yang didanai Brin ini juga telah berhasil meloloskan dua usulan tandingan ke surat suara, yang jika disetujui pemilih berpotensi secara efektif menganulir Prop 40 dengan membatasi kemungkinan diberlakukannya pajak-pajak baru di masa depan.
Gubernur California, Gavin Newsom, turut mengkritik usulan Prop 40, meski di sisi lain juga menyerukan gagasan alternatif berupa “pajak miliarder nasional”. Newsom menyebut pekerja kantoran biasa saat ini justru menanggung tarif pajak lebih tinggi dibanding pewaris kekayaan.
“Kita harus mengakhiri pinjaman gaya hidup bebas pajak, trik yang memungkinkan orang super kaya meminjam dana memakai portofolio saham mereka sebagai jaminan tanpa perlu melaporkan penghasilan kena pajak,” kata Newsom.
Brin bukan satu-satunya taipan teknologi yang berupaya menghindari pajak semacam ini. Sejumlah tokoh teknologi lain, seperti mantan CEO Uber, Travis Kalanick, investor modal ventura Peter Thiel, hingga rekan pendiri Google, Larry Page, dilaporkan telah meninggalkan California. Namun, tidak semua taipan teknologi menolak usulan pajak ini. Salah satu pendiri Nvidia, Jensen Huang, yang diperkirakan bakal menanggung sekitar 8 miliar dollar AS (sekitar Rp 144 triliun) jika Prop 40 berlaku, justru menyatakan tidak keberatan membayarnya sama sekali.
“Saya bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali. Kami memilih untuk tinggal di Silicon Valley, dan pajak apa pun yang ingin mereka terapkan, saya baik-baik saja dengan itu,” kata Huang dalam sebuah wawancara pada Januari lalu.
Selain Brin, sejumlah tokoh teknologi dan bisnis lain turut menyokong pendanaan Building a Better California, di antaranya mantan CEO Google, Eric Schmidt, investor Michael Moritz, CEO Stripe Patrick Collison, CEO DoorDash Tony Xu, serta pemodal ventura John Doerr.














