ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama dengan China untuk membangun jaringan Kereta Trans Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer. Proyek tersebut menjadi bagian dari rencana besar pengembangan infrastruktur Kalimantan hingga 2045, termasuk mendukung konektivitas Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kabar tersebut dilaporkan media Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), Senin (28/9/2026), yang menyebut Indonesia sedang menjajaki investasi asing untuk merealisasikan proyek jaringan kereta di Pulau Kalimantan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya mengungkapkan bahwa China dan Rusia telah menyatakan ketertarikan untuk ikut membangun proyek tersebut. Namun hingga kini pemerintah masih berada pada tahap penjajakan dengan kedua negara.
“Sudah kita jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya China dan Rusia sudah kita jajaki,” kata Dudy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, beberapa Waktu lalu.
Minat terhadap proyek Trans Kalimantan semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung percepatan pembangunan jaringan kereta tersebut saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, pada 30 Juli 2026.
Jaringan Kereta Trans Kalimantan dirancang menghubungkan berbagai wilayah di pulau yang selama ini belum memiliki layanan kereta api umum. Infrastruktur tersebut juga diproyeksikan menopang mobilitas menuju dan dari kawasan IKN.
China Punya Modal Pengalaman KCJB
Laporan SCMP juga menyoroti pengalaman China dalam membangun Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebagai modal penting jika kembali terlibat dalam proyek perkeretaapian Indonesia.
Kereta cepat sepanjang 142,8 kilometer itu dinilai menunjukkan kemampuan teknis China dalam membangun proyek transportasi berskala besar.
Peneliti senior ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura, Siwage Dharma Negara, menilai China memiliki keunggulan karena mampu menawarkan paket pembangunan yang lengkap.
“Saya pikir Tiongkok dapat menawarkan Indonesia ekosistem kereta api yang lengkap, termasuk pembiayaan, keahlian teknik, teknologi, dan personel yang berpengalaman,” ujarnya.
Meski begitu, peluang investasi China disebut tidak akan semudah sebelumnya. Para analis menilai pemerintah maupun perusahaan China akan lebih berhati-hati dalam menegosiasikan proyek infrastruktur di Indonesia.
Salah satu pertimbangannya adalah pengalaman pembiayaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang menghadapi tekanan keuangan, serta berbagai tantangan pada proyek metro bawah tanah di Bali.
Laporan Pusat Keuangan Hijau dan Pembangunan Universitas Fudan juga menyebut strategi investasi luar negeri China kini bergeser. Negeri Tirai Bambu disebut mulai mengurangi pembiayaan proyek-proyek infrastruktur raksasa dan lebih memilih proyek dengan skala yang lebih kecil.
SCMP juga menyinggung batalnya proyek metro bawah tanah Bali senilai US$20 miliar yang sebelumnya melibatkan China Railway Construction Corporation (CRCC) bersama mitra lokal.
Menurut laporan Bali Discovery, pemerintah Bali membatalkan rencana proyek tersebut pada Agustus lalu.
Spesialis perkeretaapian independen asal China, David Feng, mengatakan pembatalan proyek itu berpotensi memengaruhi strategi investasi CRCC di Indonesia ke depan.
“Jelas hal itu berdampak pada CRCC,” katanya. []
















