Setelah ramai menjadi perbincangan sejumlah pihak terkait aliran uang di rekening Mustopa NR pelaku penembakan di Kantor MUI Pusat, Jakarta, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Metro Jaya menyatakan bahwa uang tersebut dari tiga anak Mustopa di luar negeri.
Seperti diketahui, dari hasil penyelidikan yang dilakukan Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, rekening bank Mustopa, Warga Kabupaten Pesawaran, Lampung yang mengaku wakil nabi tersebut mencapai Rp 800 juta.
Dari hasil pemeriksaan terhadap keluarga Mustopa termasuk istri dan anak pelaku penembakan Kantor MUI Pusat tersebut, penyidik Dit Reskrimum Polda Metro Jaya menyebut uang tersebut berasal dari tiga orang anak Mustopa yang saat ini bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Hal tersebut diketahui berdasarkan pengakuan dari putra pertama Mustofa NR yakni Hediansyah melalui istrinya Fauziah. Fauziah (40 tahun) mengatakan, uang ratusan juta itu, jika ditotal mencapai Rp 800 juta. Uang tersebut dikirim anak tiga orang anak almarhum Mustopa NR.
“Dari tiga orang anak almarhum yang kerja di luar negeri, satu di Korea, dua lainnya di Taiwan, semua di luar Negeri,” kata menantu Mustopa NR tersebut di sela-sela pemeriksaan yang dilakukan penyidik Dit Reskrimum Polda Metro Jaya di Polda Lampung, Kamis (4/5/ 2023).
Fauziah menjelaskan, uang itu dikirim melalui dirinya, setelah terkumpul baru kemudian ditranfer ke rekening Mustofa untuk membelikan tanah, sawah, rumah, hingga kendaraan.
“Anak pertama almarhum (Mustopa) gajinya Rp 30 juta perbulan di Korea, yang dua di Taiwan, masing-masing gajinya Rp 15.000.000, Jadi ada yang dikirim untuk beli sawah, rumah, tanah, hingga kendaraan,” ungkap Fauziah sembari menunjukkan rekening koran miliknya.
Lebih lanjut Fauziah mengungkapkan, dari total catatan, uang di rekening yang tercatat sudah digunakan untuk membeli sejumlah property, setidaknya 12 item, mulai dari sawah, sepeda motor, mobil, kebun dan rumah, hingga rehab rumah. “Bukan untuk foya-foya,” ujar Fauziah.
Menantu Mustopa tersebut juga menuturkan, bahwa Mustofa tidak bisa mengoperasikan komputer, makanya sedikit heran kok bisa ada ketikan surat dari komputer, Fauziah menduga Mustopa mengetik di rental komputer.
“Soal menembak tidak tahu belajar dimana. Sekolah hanya tamatan SD, tidak bisa komputer. Bisa menggunakan HP Android saja baru-baru ini, diajarkan cucu-cucunya,” ucap Fauziah.
Menurut Fauziah, semua data yang ada dan keterangannya juga sudah disampaikan kepada penyidik Polda Metro Jaya yang datang ke rumah mereka. Termasuk terkait kepergian Mustopa ke Jakarta. “Kami mendukung proses penyelidikan Polisi. Data-data dan keterangan yang dibutuhkan telah kami berikan. Kami juga berterima kasih didatangi tim Polda Metro Jaya. Keluarga juga terbuka semua,” katanya. dikutip dari beritasatu.
Fauziah menambahkan, terkait kepergian Mustopa ke Jakarta Mustofa hanya pamit kepada ibu mertuanya, dan hanya menyatakan pamit akan ke Jakarta, dan mohon doakan saja.
“Kami berharap mertua kami ini dimaafkan jika punya salah. Kami berharap jenazahnya bisa cepat dikirim ke rumah, karena ingin dimakamkan secara layak. Maafkan jika dia salah, dia bukan teroris, sekali lagi uang itu dari anak-anaknya, dan sudah tidak ada sudah digunakan untuk membeli kebun dan lain lain,” pungkas Fauziah.























