ASPEK.ID, JAKARTA – Alibaba Group Holding Ltd menaikkan program pembelian kembali saham (buyback) menjadi US$ 10 miliar setara Rp 141 triliun (kurs Rp 14.150) dari sebelumnya US$ 6 miliar.
“Buyback ini akan efektif untuk jangka waktu dua tahun hingga akhir 2022,” kata pihak Alibaba dikutip dari Reuters,Senin (28/12).
Namun, strategi naiknya harga buyback itu menyeret saham Alibaba yang terdaftar di Hong Kong tumbang lebih dalam lagi menjadi HK$ 212,20.
Sebelumnya saham raksasa e-commerce China itu juga sempat turun sebesar 4,37% setelah anak usahanya Ant Grup didorong untuk memperbaiki bisnisnya.
Pada pekan lalu saat regulator China berencana melakukan investigasi atas dugaan perilaku monopoli oleh Alibaba, saham perusahaan juga langsung merosot.
Di tengah maraknya dugaan perilaku monopoli di sektor internet China, saham perusahaan teknologi lainnya yang ikut anjlok. Seperti saham Meituan, turun lebih dari 5% dan saham JD.com juga turun lebih dari 2%.
Alibaba Group Holding Ltd adalah perusahaan multinasional asal Tiongkok yang memiliki spesialisasi dalam e-commerce, ritel, Internet, kecerdasan buatan, dan teknologi.
Didirikan pada 1999, perusahaan ini menyediakan layanan penjualan konsumen-ke-konsumen, bisnis-ke-konsumen, dan bisnis-ke-bisnis melalui portal web, serta layanan pembayaran elektronik, mesin pencari belanja dan layanan cloud computing.
Perusahaan ini memiliki dan mengoperasikan beragam bisnis di seluruh dunia dalam berbagai sektor, dan dinobatkan sebagai salah satu perusahaan paling dikagumi di dunia oleh Majalah Fortune.
Pada saat penutupan dalam penawaran umum perdana (IPO) US$ 25 miliar tertinggi di dunia dalam sejarah, 19 September 2014, nilai pasar Alibaba adalah US$ 231 miliar.
Per Juni 2018, kapitalisasi pasar Alibaba mencapai US$ 542 miliar. Perusahaan ini menjadi salah satu dari 10 perusahaan paling bernilai dan terbesar di dunia. Pada Januari 2018, Alibaba menjadi perusahaan Asia kedua yang berhasil menembus angka valuasi 500 miliar dolar AS, setelah Tencent.
Pada 2018, Alibaba memiliki nilai merek global tertinggi ke-9. Beroperasi di lebih dari 200 negara dan wilayah, Alibaba menjadi pengecer terbesar di dunia, salah satu perusahaan terbesar dalam bidang Internet dan kecerdasan buatan, salah satu perusahaan modal ventura terbesar, dan salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia.
























