Indonesia diprediksikan akan masuk ke lubang resesi menyusul negara lainnya. Hal tersebut terlihat dari ramalan perekonomian Indonesia yang akan masuk ke zona negatif pada kuartal III-2020.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Kementerian Keuangan alami revisi forecast pada September ini, yang sebelumnya perkirakan untuk tahun ini adalah -1,1 hingga 0,2%. Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah -1,7 sampai -0,6%. Ini artinya negatif teritory kemungkinan terjadi pada kuartal III-2020 dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV-2020 yang kita upayakan bisa dekat 0 atau positif
Ia mengatakan untuk Tahun depan, pemerintah akan menggunakan sesuai RUU APBN 2021 yakni 4,5-5,5% dengan forecast titik di 5,0.% Bagi institusi lain, rata-rata berkisar antara 5-6%. OECD tahun depan prediksi 5,3%, ADB sama 5,3%, Bloomberg median view 5,4%, IMF 6,1% dan World Bank 4,8%.
Semua forecast ini subject to atau tergantung pada perkembangan COVID-19 dan bagaimana ini pengaruhi aktivitas ekonomi.
Menteri Keuangan juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan di kuartal III-2020 dan outlook 2020. Kuartal III-2020 konsumsi rumah tangga diperkirakan masih zona kontraksi -3 hingga -1,5%. Dengan total outlook 2020 konsumsi kita berarti pada kisaran -2,1 hingga -1%.
“Untuk konsumsi pemerintah di kuartal III-2020 karena akselerasi belanja luar biasa alami positif tinggi yakni 9,8 hingga 17%. Dan untuk keseluruhan tahun antara 0,6 hingga 4,8%. Jadi pemerintah sudah melakukan all out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskalnya sebagai cara countercyclical,” ungkapnya.
Namun dari investasi kita melihat outlook 2020 kuartal III-2020 juga masih dalam posisi berat yakni -8,5 sampai -6,6%. Untuk keseluruhan tahun investasi atau PMTB masih diperkirakan dalam zona negatif -5,6 sampai -4,4%.
” Ekspor kita yang pada September juga masih negatif meski lebih landai, namun kita melihat keseluruhan kuartal III-2020 masih range -13,9 hingga -8,7%. Keseluruhan tahun untuk ekspor masih kontraksi antara -9 hingga -5,5%,” lanjut dia.
“Untuk keseluruhan tahun 2020, proyeksi kami di antara -1,7 sampai -0,6%. Kalau kita lihat kontribusi negatif dua-duanya ini, terbesar adalah dari investasi, konsumsi dan ekspor,” ungkap Sri Mulyani.






















