ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Sofyan A. Djalil dalam acara Temu Kangen Menteri yang diadakan oleh Kemenkominfo pada Senin (2/8/2021) membongkar rahasia suksesnya.
Sofyan menjadi salah satu sosok figur yang kerap kali mengisi posisi-posisi strategis di pemerintahan negeri ini. Mulai dari Menteri Kominfo periode 2004-2007 hingga sekarang Menteri ATR/Kepala BPN.
Tercatat hingga kini, pria kelahiran Aceh Timur, 23 September 1953 tersebut telah menjabat sebagai menteri di lima Kementerian yang berbeda.
Menurut Sofyan segala sepak terjang dan perannya saat ini tak lepas dari peran orang-orang baik di masa lalu yang membiayainya untuk mi melanjutkan studi hingga ke luar negeri.
“Saya bisa duduk di sini, bicara di sini, karena dulu ada orang yang menyekolahkan saya, jadi jangan ragu untuk menyekolahkan orang,” katanya dalam acara silaturahim virtual peringatan 20 tahun Kemenkominfo serta temu kangen Menteri Kominfo selama 2 dekade terakhir.
Baca juga Sofyan Djalil Minta Tata Ruang Berbasis Mitigasi Bencana
Sofyan Djalil kerap berinisiatif mengadakan beasiswa bagi SDM di negeri ini. Ia berkata bahwa dulu Kemenkominfo di bawah kepemimpinannya menyiapkan anggaran bagi studi lanjut. Peserta beasiswa Kemenkominfo saat itu juga terbilang mendapat atensi yang tinggi.
“Dulu mereka yang berangkat studi, telah menjadi orang penting dan pemimpin di bidangnya sekarang, karena program beasiswa ini memberikan kesempatan bagi orang Indonesia untuk maju,” terangnya.
Menurut Sofyan, kualitas SDM menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan serta kemajuan suatu negara. Ia berkata bahwa generasi muda Indonesia butuh untuk dilatih dan diberikan pengalaman, salah satunya dengan akses pendidikan dan melanjutkan studi.
“Terlebih kualitas SDM di pemerintahan. Kita sebagai pelopor dan regulator harus kompeten agar kualitas kebijakan yang dihasilkan menjadi baik pula. Seperti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil yang amat kompetitif, memberi harapan besar bagi SDM di pemerintahan,” ujarnya.
Sofyan menceritakan sepak terjangnya ketika Menteri Kominfo. Kala itu, adanya perkembangan migrasi sinyal 2G ke 3G bagi penyedia layanan telekomunikasi yang sifatnya tender.
Karena sistem tender sebelumnya dirasa kurang cocok, Sofyan melakukan diskresi atas kebijakan yang ada sehingga masing-masing penyedia mendapat blok sinyal frekuensi yang sama. Kebijakan Sofyan telah disetujui oleh jajaran kabinet pemerintahan kala itu.
Sofyan berkata inilah peran penting pemerintah, yakni menyediakan solusi atas suatu masalah demi kepentingan banyak pihak. Menurutnya, seringkali pejabat negara tersandung permasalahan karena rumitnya kebijakan yang saling tumpang tindih.
“Itulah model penataan frekuensi yang oleh tim Kemenkominfo kala itu lakukan. Hal seperti ini juga yang mendasari adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah yang menjadi kendala dalam pemerintahan, salah satunya dalam hal investasi,” terang Sofyan.
Ketika ditanya bagaimana perjalanannya tersebut, ia mengaku bahwa sebagai pemimpin intinya harus menjadi pendengar yang baik, tidak malu bertanya serta mempunyai keyakinan yang baik sehingga dapat membuat keputusan dan kebijakan yang tepat.
Satu pesan khas Sofyan yang banyak diingat orang adalah bagaimana senantiasa menciptakan nilai tambah dalam segala lini kehidupan.
“Nilai tambah apa yang bisa kita beri, apa yang bisa kita ciptakan bagi bangsa ini, jadi ciptakan Indonesia yang lebih baik, negara yang baik bagi generasi anak cucu kita nanti, negeri yang aman, makmur serta penuh ampunan Tuhan,” pungkas Sofyan.
























