ASPEK.ID, JAKARTA – Sulawesi Tengah mencatatkan diri sebagai daerah dengan kontribusi terbesar terhadap investasi hilirisasi nasional sepanjang 2025. Capaian ini menempatkan wilayah tersebut di posisi teratas, disusul Maluku Utara, sekaligus menegaskan pergeseran pusat investasi hilirisasi ke luar Pulau Jawa.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan, total realisasi investasi hilirisasi pada 2025 mencapai Rp 584,1 triliun atau setara 30,2% dari total investasi nasional. Angka ini melonjak signifikan sebesar 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dari total investasi yang masuk, 30,2% berasal dari hilirisasi dan nilainya mencapai Rp 584,1 triliun,” kata Rosan dikutip Kamis (5/2).
Rosan menjelaskan, investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral, namun pemerintah mulai melihat perkembangan positif pada sektor non-mineral. Perkembangan ini menunjukkan arah diversifikasi investasi yang dinilai penting untuk memperkuat struktur industri nasional.
“Kami melihat investasi non-mineral dari hilirisasi juga sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rosan menyampaikan bahwa dari lima lokasi investasi hilirisasi terbesar secara nasional, dua posisi teratas ditempati Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Bahkan, satu lokasi lainnya di peringkat keempat juga berada di luar Pulau Jawa. Kondisi ini mencerminkan semakin strategisnya peran daerah dalam mendukung kebijakan hilirisasi nasional.
Ke depan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai instrumen peningkatan nilai tambah sumber daya alam, penciptaan lapangan kerja, serta pemerataan pertumbuhan ekonomi antarwilayah. []
























