Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengungkap temuan titik api saat TNI melakukan pemantauan dari udara di lokasi diduga hilangnya pesawat ATR 400 di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Bangun Nawoko mengatakan, TNI telah mengerahkan helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara untuk melakukan pemantauan dari udara. Dari hasil observasi awal, terpantau adanya titik api di kawasan Gunung Lapihau, Kecamatan Leang-Leang, Kabupaten Maros.
“Kami sudah mengerahkan tim dari TNI AU menggunakan helikopter Caracal. Dari pemantauan udara terpantau adanya api di wilayah Gunung Lapihau, Kecamatan Leang-Leang, Kabupaten Maros,” ujar Bangun Nawoko, dilansir dari Liputan6.com, Minggu (18/1).
Menurutnya, temuan tersebut selaras dengan laporan masyarakat setempat yang sebelumnya mengaku mendengar suara ledakan dan melihat kepulan asap di lokasi yang sama.
“Kalau kita cross-check dengan laporan masyarakat, mereka juga mendengar suara ledakan dan ada yang merekam titik api. Mudah-mudahan titik inilah yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat ATR 400,” katanya.
Meski demikian, Pangdam menegaskan bahwa lokasi tersebut masih bersifat dugaan dan perlu diverifikasi lebih lanjut oleh tim di lapangan. Proses pemantauan udara juga masih terkendala kondisi cuaca.
“Pemantauan terus kami lakukan, namun terkendala kondisi cuaca yang kurang bagus. Ada pergerakan awan yang menutupi pandangan,” jelasnya.
Selain pencarian udara, TNI juga telah mengerahkan pasukan darat dari berbagai satuan untuk mendukung operasi pencarian dan evakuasi.
“Kami juga sudah mengerahkan tim darat dari jajaran Kodam XIV/Hasanuddin, Paskhas, serta Kostrad. Setelah lokasi eksak dipastikan, wilayah pencarian akan segera dibagi agar lebih efisien dan efektif,” ungkap Bangun Nawoko.
Dalam operasi pencarian ini, Kodam XIV/Hasanuddin sendiri mengerahkan ratusan personel gabungan dari berbagai satuan.
“Dari Kodam kami menyiapkan lima SSK lengkap dengan tim kesehatan, komunikasi, dan topografi. Dari Kostrad ada tiga SSK, dari Lanud sekitar 60 personel, dari Paskhas sekitar 25 hingga 30 personel. Basarnas juga sudah bergerak dibantu oleh masyarakat,” pungkasnya.
Mengantisipasi medan berat di kawasan tersebut, Pangdam menyebutkan pihaknya telah menyiapkan peralatan evakuasi lengkap, termasuk dukungan medis dan logistik.
“Daerah ini merupakan pegunungan karst dengan hutan yang lebat dan medan yang cukup terjal, sehingga kami siapkan peralatan yang mendukung proses evakuasi,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran operasi SAR, TNI juga telah mengerahkan ambulans ke wilayah Leang-Leang serta memperkuat sistem komunikasi di lapangan dengan perangkat komunikasi satelit.
“Komunikasi di lokasi cukup sulit, sehingga kami menurunkan tim komunikasi dengan perangkat satelit agar pengendalian operasi pencarian dan penyelamatan dapat berjalan lancar,” tambahnya.
Terkait kondisi cuaca saat pesawat dilaporkan hilang kontak, Bangun Nawoko mengaku belum memperoleh data pasti, namun hujan sempat terjadi di wilayah tersebut.
“Saya belum mengetahui secara persis, namun di jam-jam tersebut memang hujan yang datang dan pergi,” katanya.
Menjawab pertanyaan mengenai kepastian jatuhnya pesawat, Pangdam menegaskan bahwa hal tersebut masih dalam tahap pendalaman.
“Ini masih kami pastikan. Namun kecurigaan kami mengarah ke sana karena di kawasan hutan lebat tersebut terlihat titik api yang cukup besar,” tegasnya.
Ia juga membantah kabar adanya puing pesawat yang telah ditemukan oleh warga.
“Belum ada puing yang ditemukan. Warga dan Babinsa baru melihat dari jarak yang cukup jauh dan belum bisa dipastikan sebagai puing pesawat,” jelas Bangun Nawoko. []
























