ASPEK.ID, JAKARTA – Boeing mengalami kerugian sebesar 2,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp 35 triliun (kurs Rp14.600/USD) dalam kurun waktu 3 bulan.
Anjloknya permintaan dan masalah produksi 737 Max di tengah pandemi virus Corona jenis baru atau Covid-19 ditenggarai jadi masalah utamanya.
Tidak hanya itu, saham Boeing (BA) juga ikut turun sekitar 4% di awal sesi perdagangan pada Rabu (29/7) kemarin.
Perusahaan multinasional yang merancang, memproduksi, dan menjual pesawat terbang, pesawat rotor, roket, dan satelit ini pun berencana untuk memangkas sekitar 10 persen dari total 16 ribu karyawan.
CEO Boeing Dave Calhoun mengatakan, dalam upaya pemulihan Boeing juga berencana untuk mengurangi skala produksi semua jet komersialnya dan berpotensi menutup seluruh jalur perakitan 787 jet Dreamliner.
“Kami juga perlu mengevaluasi cara paling efisien untuk memproduksi 787, termasuk mempelajari kelayakan konsolidasi produksi di satu lokasi,” kata Calhoun sebagaimana dikutip dari laman CNN, Kamis (30/7).
Target produksi 787 turun dari 10 per bulan menjadi 6 per bulan. Pesawat 777 juga direncanakan akan dikurangi produksi perbulannya dari 5 per bulan menjadi 2 per bulan.
Dalam produksi jet 737 Max, Boeing juga masih dalam tahap awal melanjutkan produksinya. Sejak insiden jatuhnya 737 Max pada Maret 2019 yang menewaskan 346 orang, jet ini mengalami penurunan permintaan.
Perusahaan telah membuat kemajuan untuk kembali memproduksi 737. Termasuk menyelesaikan tes seleksi pilot yang akan menerbangkan 737.
“Perusahaan juga telah berhenti sementara membayar dividen investor, menghentikan program pembelian kembali sahamnya, memotong pengeluaran dan biaya, dan mengambil utang US$ 25 miliar (Rp 366 triliun),” tandasnya.
























