ASPEK.ID, JAKARTA – Delapan belas tahun lalu, 26 Desember 2004, saat dunia tengah bersiap berganti kalender tahunan, bencana tsunami maha dahsyat menerjang Aceh. Bencana yang kemudian didaulat sebagai salah satu yang terhebat di abad 21 ini dimulai dari guncangan gempa berkekuatan 9,2 SR di Samudera Hindia.
Besarnya kekuatan gempa memicu gelombang tsunami yang menghantam seluruh pesisir Aceh mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Barat hingga ke Simeulue, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir timur Afrika.
Tsunami yang terjadi tepat pukul 07.55 WIB itu membawa jutaan liter air laut ke daratan. Diperkirakan sekitar 280 ribu jiwa menjadi korban akibat bencana tersebut. Aceh menjadi wilayah paling parah dilanda tsunami dengan korban diperkirakan lebih dari 200 ribu jiwa.
Tak ada yang mampu menahan gulungan ombak yang meraung-raung saat itu, menghancurkan serta menyapu semua yang dilewatinya. Total, lebih dari 230 ribu jiwa di 14 negara menjadi korban akibat peristiwa itu.
Kesedihan yang teramat dalam tentu saja dirasakan oleh keluarga korban, tanpa terkecuali bangsa Aceh. Konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan RI yang telah berlangsung puluhan tahun silam pun singkat cerita disikapi dengan arif oleh kedua belah pihak, yaitu dengan cara berdamai tepat pada tanggal 15 Agustus 2015, atau 8 bulan pasca kejadian.
Dengan kata lain dapat dikatakan, jalur perdamaian yang ditempuh adalah satu-satunya opsi yang harus diambil pasca tsunami memporak-porandakan Aceh.
Perjanjian damai yang dikenal dengan sebut MoU Helsinki itu diharapkan menjadi solusi untuk membawa Aceh bangkit dari segala keterpurukan saat itu.
Kerinduan yang mendalam akibat kehilangan sanak keluarga, sahabat dan orang-orang yang dicintai tentu tidak mudah untuk dilupakan. Beberapa kuburan massal yang menjadi tempat peristirahatan terakhir ratusan ribu jasad korban tsunami kerap menjadi sarana pelipur lara keluarga korban, meski tidak dapat dipastikan jika itu adalah kuburan keluarga mereka.
“Saat lebaran saya juga sering berziarah ke kuburan massal ini, tidak hanya saat momentum peringatan tsunami (26 Desember_red) seperti sekarang saja,” kata Teuku Adriansyah, salah satu warga yang berziarah di kuburan massal Ulee Lheu, Banda Aceh saat Aspek.id berkunjung kesana pada Selasa, 26 Desember 2017 lalu.
Teuku Adriansyah yang saat itu menjabat sebagai Keuchik Desa Punge Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh menceritakan, ada enam anggota keluarganya yang menjadi korban keganasan tsunami. Saat kejadian, karena suatu keperluan dia tidak berada di rumah sehari sebelum tsunami sehingga ia berhasil selamat.
Ia juga mengaku sangat yakin jika keenam anggota keluarganya, dikuburkan bersama puluhan ribu korban tsunami lainnya di kuburan massal yang terpaut sekitar 2 kilometer dengan tempat tinggalnya ini.
Sebagian besar warga lain yang berziarah terlihat tidak mampu menyembunyikan kesedihan mereka. Lantunan ayat suci Al Quran dan doa yang dipanjatkan pun tidak terhenti meski tetesan air mata terus mengucur deras di wajah mereka.
Setidaknya, itu adalah salah satu cara mengobati kesedihan dan kerinduan para keluarga korban tsunami Aceh. Alfatihah.







![[Foto] Antara Kesedihan dan Kerinduan Keluarga Korban Tsunami Aceh](https://aspek.id/wp-content/uploads/2019/12/tsunami-7-360x180.jpg)












![[Foto] Antara Kesedihan dan Kerinduan Keluarga Korban Tsunami Aceh](https://aspek.id/wp-content/uploads/2019/12/tsunami-7-640x375.jpg)










