ASPEK.ID, JAKARTA – PT Barata Indonesia (Persero) berhasil mencatatkan nilai ekspor yang signifikan dan berhasil menembus 31 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp 433 miliar.
Jumlah ini meningkat signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu dimana PT Barata Indoenesia (Persero) hanya berhasil mencatatkan nilai ekspor sebesar 16 juta dolar AS.
Direktur Utama PT Barata Indonesia, Fajar Harry Sampurno mengatakan meningkatnya nilai ekspor perusahaan membuktikan bahwa produk manufaktur tanah air juga mampu bersaing dan tidak kalah dengan produk-produk manufaktur mancanegara.
Ekspor tersebut diperoleh dari Divisi Industri Komponen dan Pemesinan melalui produk Foundry (pengecoran) yaitu komponen Kereta Api serta Divisi Pembangkit yang melakukan ekspor komponen Pembangkit Listrik.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Divisi Industri Komponen dan Pemesinan (DIKP) Barata Indonesia melakukan ekspor ke negara-negara Amerika Utara seperti Amerika Serikat, Meksiko dan juga Kanada. Sementara Divisi Pembangkit lebih variatif karena melakukan ekspor ke berbagai negara di dunia..
”Komitmen ekspor tersebut akan tetap kami tingkatkan guna menguatkan positioning perusahaan di industri manufaktur nasional. Rencananya tahun 2020 kami menargetkan nilai ekspor sebesar 35 Juta USD,” kata Harry dalam keterangannya pekan lalu.
Kemudian dikatakannya, pada tahun 2020 PT Barata Indonesia juga akan terus berencana untuk meningkatkan nilai ekpor sebagai salah satu upaya menjaga eksistensi dalam industri manufaktur dalam negeri serta sebagai bentuk perseroan dalam meningkatkan devisa negara.
Di sisi lain, pada 2020 perusahaan juga akan melakukan langkah besar yakni menjadi pemimpin klaster Industri manufaktur yang terdiri dari beberapa perusahaan BUMN yang bergerak di bidang manufaktur.
Perusahaan tersebut terdiri dari PT Barata Indonesia (Persero), PT INKA (Persero), PT Boma Bisma Indra (Persero), PT IKI (Persero), PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) serta PT Dok Dan Perkapalan Surabaya (Persero).
Saat ini, Tim Pokja Percepatan Pengembangan Industri Manufaktur telah dibentuk dan pihak-pihak terkait telah melakukan konsolidasi untuk mempercepat pembentukan klaster industri manufaktur tersebut.
Pembentukan kluster tersebut juga bukan tanpa landasan. Pembentukan klaster industri manufaktur tersebut merupakan arahan langsung dari Menteri BUMN, Erick Thohir lewat SK Menteri BUMN RI Nomor: SK- 290/MBU/11/2019 Tentang Pembentukan Tim Percepatan Pengembangan Industri Manufaktur.
Barata mengalami beberapa tahapan transformasi sejak berdiri. Berawal dari cikal bakal Perseroan NV BRAAT pada tahun 1924 hingga saat ini telah terjadi perubahan-perubahan yang cukup signifikan namun masih memiliki benang merah bidang usaha yang menjadi keunggulan bagi Perseroan.
Pada 2018, PT Barata Indonesia (Persero) berhasil meraih pendapatan Rp 3,65 trilliun, laba bersih Rp 67,8 miliar dengan total asset sebesar Rp 4,55 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 1,2 triliun.
























