ASPEK.ID, JAKARTA – Direktur Operasi Perum Peruri, Saiful Bahri meminta, masyarakat harus lebih jeli dalam membedakan meterai asli dan materai yang palsu.
Menurutnya untuk mengenali meterai asli dan yang palsu dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni dilihat, diraba, dan digoyang.
“Meterai asli memiliki tiga lubang pada lembaran yang bentuknya bulat, oval, dan bintang. Ini tidak mungkin bisa dipalsukan karena teknologi untuk perforasi tidak sederhana itu jadi mesin kami yang untuk melakukan perforasi cukup spesifik tidak ada yang punya di Indonesia,” katanya, Rabu (17/3).
Kedua dari sisi teknologi cetak. Peruri sebagai instrumen dari pemerintah untuk menjaga otentifikasi dokumen mempunyai teknologi yang hanya boleh dimiliki oleh perusahaan negara.
Teknologi cetak yang digunakan pada materai umumnya sama dengan uang. Sehingga apa yang terlihat dari cetakan meterai asli pada nominal baik Rp6000 maupun Rp10.000 itu apabila diraba akan terlihat kasar.
“Karena menggunakan teknik khusus tapi kalau menggunakan print biasa cetak biasa itu akan terlihat sama saja. Kemudian yang ketiga adalah warna,” jelas dia.
Meterai palsu tidak sepenuhnya bisa meniru seluruh ornamen yang dibuat oleh Peruri dari mulai bentuk logo dan hologram yang dipakai.
“Saya kira tidak semuanya bisa menyertakan logo-logo yang kami cantumkan di dalam meterai yang asli yaitu logo DJP, Garuda Pancasila, dan simbol Kementerian Keuangan,” pungkasnya.





















