Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa bank yang dia pimpin sudah sejak lama menjadi bank digital.
“Sebenarnya kalau orang ribut-ribut bank digital, kami BCA ini sudah bank digital sejak lama. Cuma kita ini digital plus-plus,” ujar Jahja dalam webinar Hari Pelanggan Nasional 2021 di Jakarta, Jumat (3/9/2021).
Jahja menyebutkan bank digital lebih mengarah ke individual payment. Sementara, menurut dia, BCA memiliki fitur yang lebih lengkap.
“Nah, kalau di BCA kan lengkap, ada ritel, transaksi komersial, korporasi, dan lain-lain,” tambah Jahja.
Baca juga Semester I/2021, BCA Raup Laba Bersih Rp14,45 T
Dia membeberkan bahwa dari 40 jutaan rata-rata transaksi per hari yang menggunakan layanan digital, Bank Central Asia sudah mencapai 86,7% mulai dari internet banking hingga mobile banking.
“Dari 40 jutaan per hari ini hanya 0,7% yang ke cabang buat transaksi, di ATM juga cuma 12,6% Sisanya kemana? Internet banking 26% dan mobile banking 60,7%. Artinya 86,7% sudah digital. Makanya sebetulnya, Bank BCA ini sekarang bukan lagi bank konvensional tapi bank digital plus-plus,” tegasnya.
“Tapi kami bikin juga bank digital, karena ada market yang missed yang harus didekati. Perkembangan teknologi ini penting untuk diikuti,” pungkasnya.
BCA tetap membuat layanan bank digital dengan mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia dan kemudian diubah namanya menjadi BCA Digital. Bank digital milik tersebut punya aplikasi namanya Blu.
Kehadiran bank digital menjadi fenomena yang marak semenjak pandemi Covid-19 menerjang. Fenomena itu terjadi karena transformasi digital yang mengharuskan bank-bank beradaptasi untuk transaksi digital yang praktis dan memudahkan nasabah.
Menanggapi fenomena tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan aturan baru soal bank digital melalui POJK No. 12/POJK.03/2021. Meskipun fenomena ini terbilang baru, namun ternyata Indonesia sudah memiliki bank digital sejak lama.
























