Vice President & Chief Administration Officer Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Luky Eko Wuryanto menyatakan hingga Agustus 2021 total hutang Indonesia yakni 2,89 miliar dolar AS (Rp41,3 triliun).
Dengan total pinjaman tersebut, maka Indonesia menjadi penikmat pinjaman AIIB terbesar kedua setelah India yaitu sebesar 5,85 miliar dolar AS atau Rp 83,4 triliun.
“Indonesia itu adalah penikmat pinjaman kedua terbesar setelah India dari AIIB. India memang jauh memiliki banyak project yang mungkin karena kesiapan mereka juga lebih baik dari kita,” kata Luky dalam diskusi virtual Hutama Karya Academy, Kamis (9/9/2021).
Luky menuturkan, total pinjaman ke Indonesia meliputi dua hal yaitu pinjaman untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp 21,3 triliun dan pembangunan proyek infrastruktur senilai Rp 19,9 triliun.
Besarnya pinjaman yang diberikan, karena AIIB memandang Indonesia termasuk negara yang sangat potensial. Secara statistik, masih banyak yang dapat dikembangkan dari Indonesia untuk bisa mendapatkan pinjaman yang jauh lebih besar.
“Kita termasuk negara yang dipandang sangat potensial dan tentunya melihat dari statistik tersebut masih banyak yang kita bisa upayakan, kalau memang Indonesia berminat meminjam dari AIIB,” ungkap Luky.
Pasca-pandemi Covid-19, terdapat lima hal yang menjadi prioritas proyek yang akan dibayai oleh AIIB yaitu digital dan green infrastructure, ekspansi ke infrastruktur sosial, mobilisasi modal swasta, konektivitas dan kerja sama regional, dan infrastruktur berbasis teknologi.
“Jadi sejak tahun ini kita juga mulai memasukkan social infrastructure di mana ada kesehatan dan pendidikan, dan sebelumnya itu belum ada, dan lebih pada infrastruktur fisik saja,” ujarnya.
Luky menjelaskan, hingga saat ini total pinjaman yang disalurkan AIIB adalah 27,52 miliar dolar AS atau setara Rp 392,3 triliun kepada 30 negara anggota AIIB untuk membiayai 138 proyek.
Baca Juga: Cucu Usaha Garuda Indonesia Bakal Dilikuidasi
























