Oleh Arcadra Thahar (Pakar Perminyakan)
Sahabat IG dan FB yang berbahagia, dalam beberapa tulisan yang lalu kami sudah membahas tentang alur terbentuknya harga BBM di konsumen. Salah satu titik penting dari alur ini adalah Singapura sebagai pusat perdangangan minyak dunia (oil trading hub) atau dalam tulisan sebelumnya disebut dengan pasar energi.
Kenapa Singapura bisa menjadi tempat berkumpulnya penjual dan pembeli (trader) minyak dunia? Apakah ada perlakuan khusus pemerintah Singapura sehingga trader mau berdagang di sini? Hal-hal inilah yang kami coba bahas dalam tulisan ini.
Kalau kita mau belajar sejarah, sebelum merdeka pada tahun 1965, Singapura sudah dipilih oleh perusahaan minyak Shell Belanda menjadi pusat distribusi BBM di Kawasan Asia. Shell membangun tempat penyimpanan (storage), pencampuran (blending) dan pengisian BBM (bunkering) untuk kapal-kapal yang lewat selat Malaka dan sekitarnya. Secara geografis letak Singapura memang sangat strategis. Kapal-kapal yang berlayar dari Eropa dengan tujuan Asia Timur akan melintasi Singapura.
Sebenarnya sebagai pusat distribusi BBM, peran sebagai penyedia storage, blending dan bunkering sudah cukup bagi Singapura untuk menarik kapal-kapal yang lewat untuk singgah. Namun, satu peran yang tercecer untuk mendaptkan nilai tambah yang optimal adalah belum adanya kilang minyak (refinery). Maka dari tahun 1961 sampai 1973 Singapura membangun lima (5) refinery sekaligus.
Untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah yang diolah oleh refinery, Singapura mendatangkannya dari negara negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, UAE dan Qatar. Setelah diolah oleh refinery, BBM yang dihasilkan dijual ke negara-negara sekitar seperti Jepang, Hongkong, China, Australia dan Indonesia.
Pertanyaan menariknya, bagaimana Singapura bisa membangun 5 refinery dalam kurun waktu 12 tahun? Banyak faktor yang saling mendukung pada waktu itu sehingga 5 kilang dapat terbangun dengan cepat. Beberapa diantaranya berkaitan dengan kejelian Singapura dalam melihat peluang di kawasan Asia. Jepang membutuhkan BBM yang sangat besar untuk menunjang kegiatan ekonomi yang sedang booming setelah perang dunia kedua. Pasukan Amerika Serikat (AS) yang lagi bertempur dengan Vietnam membutuhkan BBM yang sangat besar. Bayangkan lebih dari 20% BBM yang dihasilkan refinery di Singapura ini dibeli oleh pasukan AS.
Apakah demand saja cukup untuk mempercepat pembangunan refinery di Singapura? Ternyata tidak. Menurut literatur yang kami pelajari, yang menjadi kunci utamanya adalah adanya insentif pajak yang diberikan negara kepada investor yang membangun kilang ini.
Apa saja insentif pajak tersebut? Negara membebaskan pajak selama 5 tahun pertama beroperasi. Pelaku usaha tentu paham dengan manfaat insentif pajak ini. Salah satunya adalah pengembalian modal akan jauh lebih cepat sehingga keekonomian projek menjadi sangat baik.
Setelah semua peran sebagai pusat distribusi BBM di Asia tercapai dan terjadi beberapa kali harga minyak yang jatuh dalam, Singapura melihat peluang lain untuk memajukan sektor energi mereka. Apa peluang itu? Membangun pusat perdagangan minyak dunia di Singapura.
Sampai pertengahan tahu 1980-an, pusat perdagangan BBM sudah terbentuk di Singapura. Namun pusat perdagangan minyak mentah (crude) masih dipegang oleh Tokyo. Dengan tingginya biaya untuk berbisnis di Tokyo waktu itu dan diperparah oleh sulitnya mendapatkan likuiditas (uang) dari Bank, maka pusat perdagangan minyak mentah perlahan berpindah ke Singapura.
Apakah cukup situasi yang kurang mendukung di Tokyo mampu membuat para trader minyak berpindah ke Singapura? Ternyata tidak. Ada beberapa hal lain yang mempercepat penyatuan dua pusat perdangangan ini.
Yang paling utama adalah campur tangan pemerintah Singapura untuk kembali memberikan insentif pajak. Apa itu? Aktivitas perdagangan minyak dan BBM hanya dikenakan pajak 10%. Dengan kebijakan ini, ditambah dengan kemudahan dan kepastian berusaha maka berbondong-bondonglah trader pindah ke Singapura. Kesulitan dalam hal likuiditas di Tokyo mampu dicarikan jalan keluarnya di Singapura.
Disini terlihat campur tangan pemerintah Singapura menjadi kunci utama dalam pembangunan sektor energi. Pemerintah jeli melihat peluang dan mengeksekusi dengan baik lewat kebijakan yang tepat. Kesuksesan kebjikan di satu sektor tergantung juga dari dukungan dari sektor lain terutama sektor keuangan dan perpajakan. Indahnya sebuah sinergi.
Dari ekosistem yang terbentuk di bidang perdagangan minyak dan BBM, lahirlah pusat perdagangan komoditi lain seperti bahan tambang dan mineral. Selanjutnya kita menjadi saksi tumbuhlah Singapura menjadi pusat industri keuangan, IT dan pendidikan.
























