• Latest
  • Trending
Komdigi Beberkan Penyebab Kebocoran Data dan Serangan Siber di RI

Komdigi Beberkan Penyebab Kebocoran Data dan Serangan Siber di RI

Pukat UGM Kritis RUU Perampasan Aset

13 Kejahatan Masuk RUU Perampasan Aset

Update Gempa NTT: 25 Orang Meninggal di Manggarai dan Manggarai Timur

Update Gempa NTT: 111 Orang Meninggal, 9.278 Gempa Susulan

Merdeka Run 2026, 12 Ribu Pelari Lintasi Rute 8 Km di Jakarta

Merdeka Run 2026, 12 Ribu Pelari Lintasi Rute 8 Km di Jakarta

Gempa M7,7 Guncang NTT, Dua Warg Meninggal Dunia di Sikka

Status Tanggap Darurat Gempa NTT Diperpanjang hingga 12 September 2026

OJK Usul Kepemilikan Asing di Perusahaan Asuransi Naik Jadi 99%

OJK Usul Kepemilikan Asing di Perusahaan Asuransi Naik Jadi 99%

Kebakaran Hutan 2019 Bikin Indonesia Rugi Rp 72 Triliun

10 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Jambi

PHK di Singapura Tertinggi Sejak Covid-19

Sembunyikan Pisau di Sepatu, WNI Bakal Diadili di Pengadilan Singapura

Exit Tol Jembatan Tiga Arah Pluit Ditutup Mulai 4 September 2026, Ini Penyebabnya

Exit Tol Jembatan Tiga Arah Pluit Ditutup Mulai 4 September 2026, Ini Penyebabnya

Catherine Hindra Mundur dari Kursi Wakil Direktur Utama GOTO

Catherine Hindra Mundur dari Kursi Wakil Direktur Utama GOTO

35 Pesawat Asing Siap Bantu Penanganan Karhutla

Pantauan Satelit Deteksi 36 Titik Panas Karhutla di Papua Barat

Eks Waka BGN Lodewyk Ajukan Praperadilan Ketiga

Eks Waka BGN Lodewyk Ajukan Praperadilan Ketiga

Persis Solo Rekrut Gelandang Bertahan asal Armenia

Persis Solo Rekrut Gelandang Bertahan asal Armenia

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Minggu, Agustus 30, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Komdigi Beberkan Penyebab Kebocoran Data dan Serangan Siber di RI

by Muhammad Fadhil
Januari 18, 2026
in BERITA TERBARU, NEWS
Komdigi Beberkan Penyebab Kebocoran Data dan Serangan Siber di RI

Ilustrasi pelaku peretas atau pencuri data pribadi. (iStockphoto)

Kebocoran data–terutama data pribadi–hingga serangan siber menjadi momok yang belum terselesaikan di era kemajuan digital Indonesia saat ini.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Alexander Sabar mengatakan sejatinya insiden kebocoran data dan serangan siber di Indonesia didominasi persoalan teknis yang mendasar.

Persoalan teknis itu mulai dari penggunaan sistem elektronik yang sudah usang hingga faktor kelalaian manusia atau human error.

BacaJuga

13 Kejahatan Masuk RUU Perampasan Aset

Update Gempa NTT: 111 Orang Meninggal, 9.278 Gempa Susulan

Merdeka Run 2026, 12 Ribu Pelari Lintasi Rute 8 Km di Jakarta

Status Tanggap Darurat Gempa NTT Diperpanjang hingga 12 September 2026

OJK Usul Kepemilikan Asing di Perusahaan Asuransi Naik Jadi 99%

10 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Jambi

“Solusi teknologi keamanan sebenarnya tersedia, namun efektivitasnya sering terhambat oleh penerapan dan pengelolaan yang belum optimal,” kata Alex, dikutip dari detik.com, Minggu (18/1).

Alex menjelaskan berdasarkan catatan pihaknya, masih banyak sistem digital dibangun dengan arsitektur lama dan tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan secara berkala.

Kondisi tersebut, sambungnya, membuat sistem menjadi rentan dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber.

Selain itu, dia mengatakan disiplin keamanan informasi di tingkat pengguna juga dinilai masih lemah. Hal ini terlihat dari pengelolaan kata sandi, konfigurasi sistem, hingga tata kelola akses yang belum optimal.

Menurut Alex, peran human error dan serangan murni dari peretas sulit dipisahkan.

Dia menilai banyak kebocoran data terjadi bukan semata karena kecanggihan teknik pelaku, melainkan akibat celah internal. Beberapa di antaranya seperti salah konfigurasi sistem, keberhasilan serangan phishing, hingga pengelolaan hak akses yang tidak disiplin.

Alex juga menyoroti kebocoran data yang terjadi pada instansi dengan anggaran teknologi informasi (IT) besar. Ia menegaskan, besarnya anggaran tidak otomatis menjamin keamanan yang tinggi.

Dia menjelaskan bahwa instansi berskala besar biasanya memiliki ekosistem sistem yang kompleks, melibatkan banyak aplikasi, vendor, integrasi lintas platform, serta pengguna dengan kewenangan berbeda-beda.

Kompleksitas ini meningkatkan potensi kesalahan dan celah pengamanan jika tidak diimbangi dengan tata kelola keamanan yang kuat dan terintegrasi.

Lebih lanjut, Alex menekankan kebocoran data juga kerap dipicu lemahnya pengawasan terhadap akses internal. Praktik pemberian hak akses berlebihan, minimnya pencatatan dan audit log, serta kurangnya pemantauan aktivitas pengguna internal membuat data rentan disalahgunakan tanpa terdeteksi.

Alexander menyebut kualitas serangan siber di Indonesia terus meningkat. Serangan tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga semakin terarah dan canggih. Pola serangan seperti ransomware yang menyasar infrastruktur penting, serta teknik rekayasa sosial yang kian sulit dikenali, kini menjadi ancaman serius.

“Serangan tidak lagi bersifat acak, melainkan dirancang sesuai karakteristik target, termasuk instansi pemerintah dan sektor-sektor strategis,” jelasnya.

Menanggapi efektivitas Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), Alex mengatakan meningkatnya laporan kebocoran data pascapemberlakuan beleid tersebut tidak bisa langsung dimaknai sebagai kegagalan regulasi.

Sebaliknya, hal itu menunjukkan meningkatnya kesadaran publik, kewajiban pelaporan, serta perhatian terhadap isu pelindungan data pribadi.

Tantangan utama saat ini, kata Alex, berada pada tahap implementasi, mulai dari kesiapan pengendali dan prosesor data, penguatan fungsi pengawasan, hingga konsistensi penegakan hukum.

“Dengan penguatan regulasi turunan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta kepatuhan lintas sektor, efektivitas UU PDP diharapkan semakin nyata dalam jangka menengah dan panjang,” kata Alex. []

Komentar
Share17Tweet11SendShareShare3Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi yang Berkaitan dengan Kampanye LGBT+

Komdigi: Live Streaming Demo DPR Cari Viral dan Monetisasi

    ASPEK.ID, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan sejumlah siaran langsung (live streaming) terkait aksi demonstrasi di...

Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi yang Berkaitan dengan Kampanye LGBT+

Tiga Agenda Prioritas Kemkomdigi Perkuat Kedaulatan Digital

  ASPEK.ID JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperkuat kedaulatan digital dengan memastikan tiga agenda prioritas negara berjalan...

Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi yang Berkaitan dengan Kampanye LGBT+

Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi yang Berkaitan dengan Kampanye LGBT+

    Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meminta Apple dan Google menghapus aplikasi Hornet dari App Store dan...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In