ASPEK.ID, MALANG – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan pentingnya persatuan nasional sebagai fondasi utama perjalanan bangsa. Pesan itu disampaikannya di hadapan ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) dalam acara Mujahadah 1 Abad NU di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2).
Di tengah suasana khidmat dan penuh kebersamaan, Prabowo menyebut NU sebagai jangkar moral yang selama satu abad konsisten menjaga keseimbangan, moderasi, dan harmoni sosial di Indonesia. Menurutnya, peran NU tidak hanya historis, tetapi juga strategis dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika politik.
“Sejarah mengajarkan kita, tidak ada bangsa yang maju jika pemimpinnya tidak rukun,” ujar Prabowo dengan nada mantap.
Mantan Danjen Kopassus itu menekankan bahwa perbedaan pandangan politik adalah hal wajar dalam demokrasi. Debat, kritik, dan adu gagasan sah terjadi di ruang kompetisi. Namun, ia mengingatkan, kontestasi politik tidak boleh berlarut menjadi konflik berkepanjangan.
“Mustahil ada kemakmuran tanpa stabilitas, dan mustahil ada stabilitas jika para pemimpinnya masih belum rukun,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti etika kepemimpinan. Ia mengingatkan para elite dan pemegang kekuasaan agar tidak terjebak dalam politik dendam yang hanya menyisakan luka sosial dan memperlebar jurang perpecahan.
Ia lalu meminjam falsafah Jawa yang lekat dengan tradisi NU, mikul dhuwur mendem jero—menjunjung tinggi kehormatan, sekaligus mengubur dalam-dalam perselisihan dan kesalahan masa lalu demi kepentingan yang lebih besar.
“Berbeda itu tidak masalah. Setelah berbeda, kita cari persamaan. Sebuah ajakan untuk kembali ke khittah bangsa Indonesia, yakni musyawarah mufakat,” pungkasnya. []
























