ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai memberangkatkan calon jemaah haji ke Tanah Suci sejak awal pekan ini. Di tengah persiapan besar tersebut, aspek kesehatan mental jemaah menjadi perhatian serius.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 10-15 persen jemaah haji membutuhkan perhatian khusus terkait kondisi kejiwaan. Selain itu, sekitar 30-40 persen jemaah dilaporkan mengalami gangguan tidur.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut kelompok lansia menjadi yang paling rentan. Data Balai Pengobatan Haji Indonesia menunjukkan sekitar 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat merupakan lansia dengan gejala demensia.
“Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (25/4).
“Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental,” sambung Imran.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kemenkes menerapkan pendekatan holistik. Salah satunya melalui konseling sebelum keberangkatan yang mencakup manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah, hingga edukasi soal pentingnya istirahat, hidrasi, dan nutrisi.
Selain itu, jemaah juga didorong melakukan relaksasi, doa, dan zikir untuk menjaga ketenangan pikiran. Dukungan sosial antarjemaah juga dinilai penting dalam meredakan kecemasan.
Imran menambahkan, petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat.
“Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” ujarnya.
Faktor Pemicu
Sejumlah faktor disebut berpotensi memicu gangguan mental selama pelaksanaan ibadah haji. Salah satunya adalah kondisi cuaca di Makkah yang mencapai 35-38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah, sehingga rentan menyebabkan dehidrasi dan kelelahan.
Selain itu, aturan baru Pemerintah Arab Saudi seperti pembatasan akses, ketentuan visa, hingga penggunaan aplikasi digital juga menambah tekanan, khususnya bagi jemaah yang tidak terbiasa dengan teknologi.
Aktivitas fisik yang padat seperti tawaf dan sa’i juga dapat memicu kelelahan emosional. Belum lagi proses adaptasi saat kepulangan setelah menjalani pengalaman spiritual yang intens.
Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, hingga interaksi dalam kerumunan besar juga dapat memicu stres dan rasa terisolasi.
“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspetasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi,” ujar Imran. []
























