ASPEK.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut negaranya tengah membahas insentif perdamaian dengan Iran setelah konflik kedua negara berlangsung sejak Februari lalu. Salah satu poin utama yang dibahas dalam negosiasi itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Trump mengatakan kesepakatan damai antara AS dan Iran sebagian besar telah selesai dinegosiasikan dan tinggal menunggu finalisasi. Menurutnya, kesepakatan tersebut dapat mengakhiri tekanan besar terhadap pasar energi global yang selama beberapa bulan terakhir ikut memicu lonjakan inflasi di AS.
Dikutip dari CNBC, Minggu (24/5), Trump mengaku telah melakukan serangkaian pembicaraan melalui sambungan telepon dari Ruang Oval Gedung Putih dengan sejumlah pemimpin negara Timur Tengah. Negara-negara yang terlibat antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, dan Israel.
Ia mengatakan seluruh pihak kini fokus membahas syarat-syarat penyelesaian konflik dengan Republik Islam Iran.
“Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain,” kata Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social.
Trump juga menyebut detail kesepakatan akan segera diumumkan, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Namun, pernyataan Trump itu dibantah media Iran. Kantor berita Fars melaporkan Selat Hormuz tetap akan berada di bawah pengelolaan Iran berdasarkan draf terbaru yang dipertukarkan kedua negara. Laporan itu sekaligus menepis klaim Trump soal pembukaan kembali selat tersebut sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Sebelumnya, Financial Times melaporkan kesepakatan potensial antara AS dan Iran akan mencakup kerangka pembicaraan nuklir baru, pelonggaran sanksi terhadap Teheran, hingga pencairan aset luar negeri milik Iran.
Diketahui, gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran telah berlangsung sejak 8 April lalu. Meski demikian, ketegangan masih sempat terjadi di sekitar Selat Hormuz saat kedua negara berebut pengaruh di kawasan tersebut.
Konflik berkepanjangan antara Iran dan AS sebelumnya memicu kekhawatiran besar di negara-negara Teluk. Krisis itu bahkan disebut sebagai salah satu gangguan energi global terburuk dalam beberapa dekade terakhir karena mendorong kenaikan harga energi dan inflasi di berbagai negara. []























