ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus mempercepat konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN). Hingga pertengahan 2026, sebanyak 250 perusahaan pelat merah telah ditutup, digabungkan (merger), maupun dikonsolidasikan.
Prabowo mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk merampingkan jumlah BUMN dari semula 1.077 perusahaan menjadi maksimal 350 perusahaan pada akhir 2026.
“Saya mau berterima kasih, saya bangga pimpinan daripada Danantara, dalam tahun pertama 18 bulan pertama sudah berhasil mengurangi jumlah tersebut dari 1.077, di akhir bulan ini, di akhir 31 Juli mereka sudah menutup, mengkonsolidasikan, me-merger, sehingga dari 1.077 berkurang 250 BUMN,” beber Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (20/7).
Prabowo kemudian berkelakar kepada Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Menurutnya, belum tentu ada negara lain yang mampu memangkas ratusan perusahaan milik negara dalam waktu satu tahun.
“Saya kira, maaf ya, mungkin Ketua DEN, Pak Luhut, bisa dicek di dunia, mana ada negara yang menutup state owned enterprises 250 dalam satu tahun?” kata Prabowo yang disambut tawa para menteri.
Presiden menjelaskan Danantara menargetkan proses restrukturisasi akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN tersisa maksimal 350 perusahaan pada 31 Desember 2026, sehingga sekitar 700 perusahaan akan ditutup, digabungkan, atau dikonsolidasikan.
“Dan mereka (Danantara) menyanggupi, laporan ke saya, ‘Pak, Desember 31, tahun 2026 jumlah BUMN kita dari 1.077 akan maksimal 350 saja.’ Berarti di akhir 2026 mungkin 700 BUMN yang akan kita tutup, kita merger, kita konsolidasi, berkurang dari 1.077 akan menjadi maksimal 350,” beber Prabowo.
Selain merampingkan jumlah perusahaan, Prabowo menyebut langkah tersebut juga memberikan efisiensi anggaran yang signifikan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, pengurangan 250 BUMN telah memangkas biaya operasional rutin hingga sekitar Rp 50 triliun.
Penghematan itu berasal dari berkurangnya biaya administrasi dan operasional, mulai dari gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, biaya transportasi, hingga berbagai pengeluaran rutin perusahaan.
“Dan mereka laporan dengan ditutupnya 250 BUMN, overhead, biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah Rp 50 triliun, Rp 50 triliun, gaji direksi, gaji komisaris, sewa gedung, bayar listrik, bayar transport, bayar ini itu, rapat kerja, Rp 50 triliun,” jelas Prabowo.
Menurut Prabowo, apabila target konsolidasi hingga akhir 2026 tercapai, nilai efisiensi anggaran diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun.
“Desember31 saya kira ini mungkin angka penghematan bisa naik bisa-bisa bisa mendekati Rp 70-80 triliun. Saya terima kasih dari pimpinan Danantara,” sebut Prabowo. []
























