ASPEK.ID, JAKARTA – Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjalin kesepakatan baru dengan Iran memicu kekhawatiran di Israel. Sejumlah pengamat hingga media Israel menilai langkah tersebut berpotensi menjadi pukulan politik besar bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Mengutip The Guardian, Kamis (28/5), tiga bulan setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, situasi di Israel berubah drastis. Jika pada awal konflik operasi militer itu dianggap sebagai keberhasilan besar Netanyahu, kini muncul kekhawatiran bahwa hasil akhirnya justru menguntungkan Teheran.
Saat perang dimulai pada Februari lalu, banyak kalangan di Israel meyakini serangan gabungan terhadap Iran dapat menghancurkan ambisi nuklir Teheran dan bahkan membuka peluang terjadinya perubahan rezim. Namun hingga kini pemerintahan Iran tetap bertahan.
Di saat yang sama, Trump justru mendorong tercapainya kesepakatan baru dengan Teheran, termasuk untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Bocoran isi awal kesepakatan tersebut memicu reaksi keras di Israel. Banyak pihak menilai pemerintahan Netanyahu gagal membaca arah kebijakan Washington.
“Israel sepenuhnya tunduk pada keputusan presiden Amerika yang berubah-ubah, kosong, dan putus asa,” tulis Nahum Barnea di harian Yedioth Ahronoth.
Barnea juga mengkritik strategi perang Netanyahu yang oleh AS dinamai Operation Epic Fury dan oleh Israel disebut Operation Roaring Lion.
“Semakin besar kemarahan, semakin keras aumannya, semakin besar pula kekalahannya,” lanjut Barnea.
Menurutnya, jika kesepakatan itu benar-benar terwujud, Iran justru akan memperoleh keuntungan besar.
“Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan menjadi lebih buruk. Miliaran dolar yang akan mengalir ke kantong rezim Iran akan sangat membantu mereka,” ujarnya.
Sejak awal konflik, sejumlah elite keamanan Israel disebut telah memperingatkan Netanyahu bahwa ambisi mendorong perubahan rezim di Iran berisiko mengorbankan aset diplomatik terpenting Israel, yakni dukungan bipartisan dari AS.
Mereka juga menilai perang berpotensi dimanfaatkan Netanyahu untuk kepentingan politik domestik menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung paling lambat Oktober mendatang.
Laporan New York Times bahkan menyebut Israel tidak dilibatkan dalam proses negosiasi terbaru antara AS dan Iran. Pemerintah Israel disebut tidak menerima pembaruan terkait perkembangan pembicaraan dan harus mengandalkan jaringan sekutu regional serta operasi intelijen untuk memantau situasi di Iran.
Meski kesepakatan baru itu diyakini tetap membatasi program nuklir Iran, banyak pihak di Israel menilai pembatasannya lebih longgar dibanding Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang diteken pada era Presiden Barack Obama pada 2015.
Padahal, Netanyahu selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap JCPOA.
Analis politik Ben Caspit bahkan menilai kesepakatan yang kini dirancang pemerintahan Trump lebih buruk dibanding perjanjian sebelumnya.
“Kesepakatan yang sedang muncul jauh lebih buruk dibanding yang sebelumnya,” tulis Caspit di surat kabar Ma’ariv.
Ia memperingatkan hasil perang dan kesepakatan yang muncul justru dapat mempercepat program nuklir Iran.
“Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi,” tulis Caspit, merujuk pada nama panggilan Netanyahu.
Menurut Caspit, wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memang menghilangkan sosok yang membangun program nuklir Iran. Namun di sisi lain, figur yang selama ini dianggap menahan tahap akhir pengembangan senjata nuklir juga telah tiada.
Kekhawatiran Israel semakin besar karena isu lain yang selama ini dijadikan alasan perang, seperti jaringan proksi Iran dan persenjataan rudal balistik Teheran, tidak masuk dalam agenda negosiasi yang sedang berlangsung.
Situasi tersebut mendorong kelompok sayap kanan di koalisi Netanyahu mendesak pemerintah mengambil sikap lebih keras terhadap tekanan Washington. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bahkan meminta pemerintah kembali melanjutkan operasi militer di Lebanon.
“Sudah waktunya perdana menteri memukul meja Trump dan memberitahunya bahwa kita kembali berperang di Lebanon,” tulis Ben-Gvir di media sosial.
Meski kekhawatiran terhadap Iran masih menjadi faktor utama dukungan publik terhadap perang, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Netanyahu mulai menurun.
Survei Israel Democracy Institute menunjukkan lebih dari sepertiga warga Yahudi Israel merasa tidak puas dengan keputusan menghentikan perang. Namun pada saat yang sama, dukungan terhadap pemerintah juga terus melemah karena konflik berlangsung tanpa menghasilkan perubahan rezim di Iran seperti yang sebelumnya dijanjikan.
Bahkan survei pada April lalu menunjukkan hanya sedikit di atas sepertiga warga yang menilai kinerja pemerintah dalam menangani perang secara positif.
Meski kritik tidak sepenuhnya ditujukan kepada Netanyahu, sebagian besar kalangan di Israel disebut tidak mendukung arah kesepakatan yang sedang dirundingkan Trump dengan Iran.
“Untuk menghormati Trump, harus dikatakan bahwa setidaknya dia mencoba,” tulis Ariel Kahana di harian Israel Hayom.
“Keberaniannya melepaskan kekuatan tembak luar biasa Amerika Serikat terhadap Iran jauh lebih baik dibanding ketidakberdayaan historis yang ditunjukkan semua pendahulunya.”
Namun Kahana mengakui Iran kini berhasil menampilkan citra sebagai pihak yang bertahan dan menang setelah perang.
“Kesimpulannya, Iran mampu dan sedang menampilkan gambaran kemenangan kepada dunia hanya karena fakta bahwa mereka masih berdiri. Untuk saat ini Trump tidak memiliki gambaran tandingan yang serupa untuk ditunjukkan. Itu bukan kabar baik bagi rakyat Israel,” tulisnya. []
























