ASPEK.ID – Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan persiapan awal terkait kemungkinan penerbitan uang kertas pecahan US$250 yang menampilkan wajah Presiden Donald Trump. Namun, realisasi rencana tersebut masih bergantung pada persetujuan Kongres AS.
Departemen Keuangan AS menyatakan tengah melakukan kajian dan persiapan administratif sebagai tindak lanjut atas rancangan undang-undang yang diajukan sejumlah anggota parlemen dari Partai Republik.
Saat ini, aturan federal di Amerika Serikat melarang penggunaan gambar tokoh yang masih hidup pada mata uang resmi negara. Karena itu, diperlukan perubahan regulasi sebelum uang pecahan baru tersebut dapat diterbitkan.
Usulan penerbitan uang US$250 diajukan oleh anggota DPR AS Joe Wilson dari South Carolina. Menurut para pendukungnya, nominal tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat yang diperingati pada 2026.
Meski demikian, rancangan aturan itu masih harus memperoleh persetujuan DPR dan Senat sebelum dapat ditandatangani menjadi undang-undang.
Departemen Keuangan menyebut Bureau of Engraving and Printing (BEP), lembaga yang bertugas mencetak mata uang AS, telah diminta mulai menyiapkan konsep desain apabila regulasi baru nantinya disahkan.
Hingga kini belum ada desain resmi yang dipublikasikan ke masyarakat. Sesuai prosedur, rancangan uang baru biasanya dirahasiakan selama proses pengembangan untuk mencegah pemalsuan dan menjaga kepercayaan terhadap mata uang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Jumat (29/5) mengatakan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Kongres. Ia menegaskan kementeriannya akan menjalankan ketentuan yang berlaku apabila legislasi tersebut lolos.
Namun, rencana itu juga menghadapi tantangan hukum lain. Peraturan yang saat ini berlaku tidak memasukkan nominal US$250 dalam daftar pecahan yang boleh diproduksi pemerintah AS.
Saat ini, uang kertas dengan nominal terbesar yang beredar adalah US$100 bergambar Benjamin Franklin. Amerika Serikat memang pernah menerbitkan uang pecahan US$500, US$1.000 hingga US$10.000, tetapi pencetakannya dihentikan sejak 1969. Meski masih sah sebagai alat pembayaran, pecahan tersebut kini lebih banyak menjadi koleksi para numismatis.
Di sisi lain, usulan uang bergambar Trump memicu kritik dari kalangan oposisi. Senator Demokrat Mark Warner menilai pemerintah seharusnya lebih fokus menangani persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, hingga perumahan.
Menurut Warner, penggunaan sumber daya pemerintah untuk proyek yang dianggap berkaitan dengan citra pribadi presiden dinilai tidak menjawab tantangan yang sedang dihadapi warga Amerika.
Wacana penerbitan uang US$250 ini menambah daftar upaya yang dikaitkan dengan penonjolan identitas Trump pada berbagai simbol nasional sejak ia kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. []
























