ASPEK.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan target tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 98% pada 2045, sejalan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Adapun berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat inklusi keuangan kini mencapai 93,61% dan literasi keuangan nasional telah mencapai 69,57%.
Kendati demikian, tingkat literasi dan inklusi keuangan pada kelompok pelajar dan mahasiswa masih berada di bawah rata-rata nasional, di mana tingkat literasi dan inklusi kelompok ini berada di angka 62,72% dan 92,76%.
Terlebih berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 88 juta penduduk Indonesia yang berada dalam kelompok usia pelajar dan mahasiswa.
“Kalau kita melihat literasi keuangan dan inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa, ini masih di bawah standar literasi dan inklusi nasional,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Pada kesempatan yang sama, Friderica atau karib disapa Kiki, menyoroti tantangan yang dihadapi pelajar dan mahasiswa dalam mengelola keuangan.
Menurutnya, kebiasaan mengakses media sosial secara berlebihan dapat memicu kecemasan pada anak muda.
Ditambah kemudahan dalam bertransaksi belanja online membuat godaan konsumtif makin besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Oleh karenanya ia menyoroti perihal penggunaan layanan buy now, pay later (BNPL) atau pay later.
Menurutnya, layanan paylater pada dasarnya bukan merupakan produk keuangan yang buruk, tetapi penggunaan produk tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi calon konsumennya.
“Kita banyak melihat bagaimana mereka melakukan buy now, tanpa tahu pay laternya gimana,” jelasnya.
Dia mengingatkan pelajar agar lebih bijak menggunakan media sosial sekaligus mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini.
















