ASPEK.ID, JAKARTA – Indonesia telah memulai program vaksinasi atau penyuntikan vaksin corona untuk mengakhiri pandemi Covid-19 di Tanah Air.
Pada tahap awal, vaksin Sinovac yang bernama CoronaVac dipakai untuk program vaksinasi.
Berdasarkan survey Global Times, Indonesia memesan sebanyak 125 juta dosis vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi Sinovac Biotech Ltd.
Sampai saat ini Indonesia sudah menerima tiga kali pengiriman vaksin dari Sinovac. Terakhir Indonesia menerima 15 juta dosis vaksin dalam bentuk curah dari Sinovac pada Selasa (12/1).
Selain itu, Indonesia sendiri juga mengembangkan vaksin merah putih yang dikembangkan oleh anak bangsa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan penjelasan perkembangan terkini vaksin merah putih, yang saat ini masih dalam tahap satu dan hasilnya berupa bibit vaksin.
Nantinya bibit vaksin ini akan diserahkan pada industri yakni Bio Farma untuk karakterisasi yang diperkirakan membutuhkan waktu 3-6 bulan.
Jika dengan waktu paling cepat 3 bulan, maka akan dilanjutkan ke fase uji klinis tahap 1 hingga 3 yang memakan waktu 1-2 tahun.
“Kalau misalnya paling cepat masing-masing 3 bulan selesai, maka bisa di awal kuartal II-2022 baru bisa diproduksi. Dalam rencana kami ini akan jadi vaksin berikutnya, karena diperkirakan vaksin yang sekarang akan mulai habis kekebalannya 2022,” kata Budi di Komisi IX DPR RI, Rabu (13/1) lalu.
Kepastian 2022
Vaksin Merah Putih kembali dipastikan baru bisa diproduksi secara massal pada tahun 2022 mendatang oleh PT Bio Farma (Persero) di Bandung, Jawa Barat.
Saat ini, Bio Farma sedang memproduksi bahan baku vaksin impor dari beberapa negara. 15 juta dosis vaksin sudah tiba di Bio Farma dan 1,32 juta sudah terdistribusi ke seluruh provinsi.
Demikian mengemuka saat Tim Kunspek Komisi IX DPR RI menggelar pertemuan dengan Direktur Utama PT. Bio Farma Honesti Basyir di Bandung, Jumat (22/1).
Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh ingin mengetahui progres produksi vaksin Merah Putih yang ditunggu-tunggu publik.
Dan ternyata baru bisa diproduksi pada 2022. Saat ini Bio Farma sedang sibuk memproduksi sekaligus mendistribusikan vaksin Sinovac asal China.
“Selain itu kami juga ingin mendapatkan progres dari upaya kita mendapatkan pasokan dari vaksin lain selain Sinovac, termasuk progres pengembangan vaksin Merah Putih. Komisi IX DPR RI sangat berharap bahwa seluruh upaya kita mengatasi pandemi melalui vaksinasi berjalan lancar sesuai rencana,” ucap Nini, sapaan akrabnya.
Secara tidak langsung, sambung Nini, pertemuan ini merupakan kelanjutan rapat dengan Bio Farma, Menteri Kesehatan, dan Kepala BPOM di DPR beberapa waktu lalu yang membahas program vaksinasi.
Dijelaskan Dirut Bio Farma, hingga Juni 2021 nanti, Bio Farma akan menerima 144.700.000 dosis vaksin. Vaksin produksi Inggris dan Amerika Serikat juga sudah berdatangan.
“Sudah hampir 10 bulan kita berjibaku menghadapi pandemi yang mengharuskan kita semua merubah cara hidup dan beradaptasi. Adanya vaksin tentu merupakan salah satu harapan kita semua agar pandemi segera berakhir. Kita patut bersyukur mendapatkan akses ke beberapa vaksin Covid-19 yang proses kerja samanya melalui PT Bio Farma. Program ini sangat penting, karena dibiayai APBN dan masyarakat terjamin aksesnya,” imbuh Nini.























