ASPEK.ID, JAKARTA – Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu mencari lebih dari 1.300 orang yang dilaporkan hilang akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Bencana dahsyat ini telah menewaskan sedikitnya 165 orang serta menghancurkan sejumlah desa di sepanjang aliran sungai.
Dilansir AFP, Kamis (27/8/2026), banjir dipicu runtuhnya gletser yang memicu aliran lumpur dan puing dalam skala besar. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut material dari gletser yang runtuh menyapu rumah-rumah dan permukiman di sepanjang jalurnya.
Di Nepal, arus banjir menghantam kawasan di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli dengan kekuatan besar. Polisi Nepal telah menemukan 162 jenazah, sementara Badan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat 823 orang masih belum diketahui keberadaannya.
Dari jumlah tersebut, ratusan merupakan warga Nepal dan wisatawan asing yang berada di kawasan pegunungan saat bencana terjadi.
Sementara itu, di wilayah Tibet, media pemerintah China melaporkan tanah longsor di Pelabuhan Gyirong menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Sebanyak 558 orang lainnya, termasuk sekitar 260 warga negara asing, masih dinyatakan hilang.
Petugas penyelamat kini menyisir endapan lumpur yang menimbun bangunan-bangunan bertingkat. Mereka menggunakan anjing pelacak, perahu cepat, hingga kendaraan darurat untuk mencari korban yang diduga masih tertimbun material banjir.
Dewan Pariwisata Nepal menyebut wisatawan yang hilang berasal dari berbagai negara, di antaranya India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Salah satu perusahaan pendakian, Himalayan Glacier, mengungkap sebanyak 47 orang dari satu rombongan pendaki, termasuk dua anak-anak, masih hilang.
“Tim kami sedang memeriksa rumah sakit tempat para korban dibawa,” kata Direktur Himalayan Glacier, Sanket Pandey.
Sejarawan lingkungan dari Universitas La Trobe, Australia, Ruth Gamble, menggambarkan banjir tersebut sebagai “tsunami daratan”. Menurutnya, gelombang lumpur dan puing melaju hampir 170 kilometer menyusuri Lembah Bhote Koshi hingga Nepal bagian tengah.
Wilayah terdampak diketahui merupakan jalur wisata populer yang menghubungkan Kathmandu, Nepal, dengan Lhasa di Tibet, sehingga banyak wisatawan asing berada di lokasi saat bencana melanda.
Presiden China Xi Jinping meminta seluruh aparat memprioritaskan pencarian dan penyelamatan korban hilang. Pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 personel darurat, sekitar 150 kendaraan, anjing pelacak, dan perahu cepat untuk mendukung operasi penyelamatan.
Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) juga telah mengirim bantuan darurat berupa selimut, kotak P3K, tandu, hingga kantong jenazah untuk membantu penanganan korban di wilayah terdampak. []















