ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Danantara mengungkap telah menerima investasi sebesar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,66 triliun untuk pembangunan pabrik pendukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas produksi hingga 50 gigawatt (GW).
Kepala Badan Pengelola Investasi (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan proyek pabrik tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun ini dan diharapkan dapat memperkuat pengembangan energi surya di dalam negeri.
Menurut Rosan, kehadiran pabrik tersebut akan mendukung rencana pemerintah mempercepat pembangunan PLTS di berbagai daerah, khususnya desa-desa yang telah memiliki jaringan distribusi listrik.
“Kebetulan sudah ada masuk investasi di Indonesia, akan selesai tahun ini untuk pembangunan pabrik investasi 1,4 miliar dolar dengan kapasitas 50 gigawatt. Jadi, itu juga sudah, investasi sudah masuk, akhir tahun ini akan selesai. Jadi, itu juga akan membantu untuk kita bisa pakai produksi dalam negeri kita untuk proyek (percepatan) PLTS ini,” kata CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani saat ditemui selepas rapat terbatas membahas percepatan transisi energi bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis.
Rapat terbatas tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan dihadiri sejumlah pejabat terkait, di antaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto.
Dalam pertemuan itu, Presiden memutuskan membentuk satuan tugas (satgas) percepatan transisi energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) yang dipimpin oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Selain membahas investasi, Rosan juga menyampaikan bahwa Danantara saat ini telah mengembangkan prototipe PLTS berkapasitas 1 megawatt (MW) di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Prototipe tersebut akan menjadi proyek percontohan sebelum diterapkan secara lebih luas.
“Prototipe itu akan ditinjau, dilihat langsung oleh tim, baik oleh ESDM, dan juga Mendikti, untuk kemudian itu bisa di-roll out,” kata Rosan.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga meminta Danantara mempelajari berbagai skema pembiayaan untuk mempercepat pembangunan PLTS di sejumlah desa di Indonesia.
“Bapak Presiden memang memberikan arahan agar bisa pembangunan ini dengan beberapa opsi pendanaan, yang itu diminta untuk kami melihat dan mempelajari strukturnya, bekerja sama baik dengan (entitas) dalam negeri maupun dengan pihak swasta yang mempunyai teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar (tenaga surya, red.) dan baterainya. Itu pembicaraan yang tadi berlangsung, fokusnya ada di situ,” ujar CEO Danantara. []
























