ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memasuki fase penting dalam pengembangan proyek Waste to Energy (WTE). Lembaga pengelola investasi strategis tersebut menargetkan pengumuman pemenang lelang tahap pertama pada akhir Februari 2026.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyek WTE menjadi bagian dari prioritas pemerintah dalam menekan persoalan sampah nasional yang volumenya kian mengkhawatirkan. Dari sekitar 60 juta ton sampah per tahun, sekitar 87 persen disebut belum terkelola optimal.
“Kita sudah mulai first batch sejak November tahun lalu atas arahan pak menko pangan dan kita akan umumkan pemenangnya dan itu tentatively kita dapatkan di akhir Februari,” kata Rosan dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
Tahap pertama ini menjadi fondasi bagi pengembangan berikutnya. Setelah proses tersebut rampung, Danantara akan melanjutkan proyek WTE batch kedua yang mencakup tujuh kota tambahan.
“Jadi setelah clear kotanya, baru kemudian diberi kami untuk tender terbuka, jadi batch kedua akan dimulai pada maret mungkin sesudah konsul dengan menko pangan,” ujar Rosan.
Di sisi lain, pemerintah juga memastikan kesiapan aspek teknologi dan skema bisnis proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa minat investor asing terhadap proyek ini cukup tinggi.
Kementerian ESDM bersama BPI Danantara saat ini tengah mengidentifikasi mitra teknologi potensial. Sejumlah vendor dari Jepang, Eropa, dan China masuk dalam radar penjajakan.
“Untuk mitra teknologi PLTSa, kita kan juga sudah melakukan identifikasi. Jadi untuk identifikasi yang kita lakukan, ini berdasarkan vendor teknologi. Ini ada dari Jepang, itu ada dari Eropa, dan juga dari China,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, seleksi tidak semata soal asal negara, tetapi menitikberatkan pada efisiensi konversi energi dan kepastian skema penyerapan listrik.
“Jadi kalau untuk vendor teknologi nanti mana yang bisa menghasilkan energi yang lebih efisien dari PLTSA. Dan juga nanti bagaimana ini proses untuk PLTSA ini juga bisa diambil offtakernya oleh PLN,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, PLN diposisikan sebagai offtaker listrik dari proyek PLTSa, sehingga aspek keekonomian proyek diharapkan lebih terjamin.
Langkah percepatan proyek WTE ini menandai upaya pemerintah mengintegrasikan solusi lingkungan dengan ketahanan energi. Selain menekan beban tempat pembuangan akhir (TPA), PLTSa juga diproyeksikan menjadi sumber energi alternatif berbasis domestik.
Keputusan pemenang tender tahap pertama pada akhir Februari akan menjadi penentu arah investasi lanjutan, sekaligus indikator keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem energi berbasis pengolahan sampah secara berkelanjutan. []






















