ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendorong percepatan pembukaan kembali tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto. Proyek ini diyakini mampu menyerap sedikitnya 1.000 tenaga kerja dan menggerakkan kembali roda ekonomi daerah.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menegaskan reaktivasi tambang tidak perlu menunggu tahun depan. Ia berharap prosesnya bisa dimulai tahun ini.
“Sekarang (2026) saja,” kata Dony, Rabu (25/2).
Dorongan tersebut sejalan dengan rencana PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang tengah menyiapkan tahapan administrasi dan teknis sebelum aktivitas produksi dimulai kembali.
Direktur Operasional PTBA Ilham Yacob menyatakan saat ini perusahaan masih fokus merampungkan dokumen krusial seperti perizinan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), serta studi kelayakan (feasibility study/FS).
“Benar ada rencana kami untuk mengaktifkan kembali tambang di Ombilin. Saat ini sedang proses perizinan, Amdal, dan feasibility study (FS). Dokumen ini sangat penting, tanpa itu aktivitas tidak bisa dilakukan. Jika sudah dibuka, ekosistemnya akan terbentuk dan berdampak ekonomi positif,” kata Ilham.
Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menambahkan kegiatan operasional baru bisa dijalankan setelah seluruh persetujuan teknis dan regulasi dari pemerintah dinyatakan lengkap.
Ia merinci, dokumen yang disiapkan mencakup aspek teknis penambangan, perhitungan biaya, kesiapan operasional, tenaga kerja, legalitas, regulasi, hingga kajian lingkungan. Jika seluruh tahapan tuntas, tambang—baik skema tambang terbuka maupun tambang dalam—diproyeksikan menyerap sekitar seribu pekerja.
Dari sisi potensi sumber daya, cadangan tambang terbuka di Ombilin diperkirakan mencapai sekitar 2 juta ton, sedangkan tambang dalam diperkirakan menyimpan hingga 100 juta ton batu bara.
Tambang Ombilin dikenal sebagai salah satu tambang batu bara tertua di Indonesia. Aktivitasnya mengalami penurunan signifikan dalam sekitar 25 tahun terakhir, yang turut memengaruhi dinamika ekonomi Sawahlunto.
Secara historis, cadangan batu bara Ombilin pertama kali ditemukan oleh geolog Belanda Willem Hendrik de Greve pada 1867–1868 dan kemudian didokumentasikan lebih lanjut oleh RDM Verbeek.
Tambang ini resmi dibuka oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 28 Desember 1891. Pembukaannya kala itu diikuti pembangunan infrastruktur strategis seperti jalur kereta api dan Pelabuhan Emmahaven—kini dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur—yang menjadi motor industrialisasi di Sumatera Barat.
Rencana reaktivasi sejatinya bukan hal baru. Sejumlah wacana, termasuk ketertarikan investor asing, pernah mengemuka dalam beberapa tahun terakhir, namun belum terealisasi. Kini, dengan dorongan Danantara dan kesiapan PTBA, peluang kebangkitan Ombilin kembali menguat. []
























